Antara Adzab Akhirat dan “Adzab” Dunia

Adanya kaidah dan prinsip balasan atau pembalasan atas setiap amal baik dan buruk, merupakan sebuah aksiomatika baku, yang banyak sekali ditegaskan di dalam Al-Qur’an, As-sunnah dan ijmak para ulama.

Pembalasan amal buruk berupa adzab, berlaku di akhirat dan di dunia, begitu pula dengan balasan amal baik. Namun yang pokok, yang inti dan yang hakiki adalah yang di akhirat. Sedangkan pembalasan amal buruk berupa adzab di dunia hanyalah sekadar “muqaddimah” dan baru sebagian kecilnya saja, sebesar dan sedahsyat apapun bentuknya dalam penilaian dan pandangan manusia.  

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong” dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan karena kejahatannya itu, dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu akan (dibalas) masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun” (QS. An-Nisaa’: 123-124).  

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh, maka (pahala dan balasannya) untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosa dan adzabnya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu Menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS. Fushshilat: 46).  

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, maka itu adalah untuk (kepentingan) dirinya sendiri, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, maka (akibatnya) itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhan-mulah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Jaatsiyah: 15).  

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah-pun, niscaya ia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah-pun, niscaya ia akan melihat (balasan)-nya pula.” (Az-Zalzalah: 7-8).  

“Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah akan disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imraan: 185).

Adzab di akhirat sebagai akibat dari dosa adalah sebuah kepastian dan keniscayaan sesuai kadar dosa yang diperbuat, kecuali jika Allah, dengan hikmah dan rahmah-Nya, berkehendak mengampuni si pelaku. Adapun adzab di dunia maka sifatnya sangat relatif dari aspek terjadinya dan juga kadarnya. Sehingga diantara para pendosa, ada yang disegerakan adzab atas dosa-dosanya di dunia, dan ada pula yang justru tidak diadzab di dunia, atau hanya diadzab ringan saja yang tidak sepadan dengan perbuatan-perbuatan buruknya. Sementara ancaman adzab hakiki (yang sebenarnya) baginya, masih Allah simpan untuk nanti ditimpakan semuanya atasnya di akhirat. Oleh karenanya, orang yang selamat dari bencana adzab di dunia, janganlah merasa aman dan mengklaim diri lebih baik daripada orang yang terkena bencana adzab, baik akibat dosa sendiri maupun akibat dosa orang lain.

عَنْ أَنَسٍ قالَ: قالَ رسولُ الله صلَّى الله عَليْه وسَلَّم: “إِذا أَرادَ اللهُ بِعَبْدِهِ خَيْرًا، عَجَّلَ لَهُ العُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذا أَرادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ، أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ، حَتَّى يُوافِيَ بِهِ يَوْمَ القِيامَةِ”. (رواه الترمذي، وقال: حديث حسن).

Dari Anas, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba-Nya, maka justru Dia menyegerakan baginya hukuman/sanksi (adzab atas dosanya) di dunia ini. Dan jika Allah menginginkan keburukan bagi seorang hamba-Nya, maka Dia akan menahan dosanya (dengan tidak diadzab di dunia), sampai Dia nanti akan menyempurnakan (adzab hukuman keseluruhannya) pada hari Kiamat” (HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata: Ini hadits hasan).

Adzab di akhirat ditimpakan murni sebagai siksaan yang pasti bersifat buruk, madharat, menjadi tanda rugi dan celaka, serta merupakan bukti laknat dan murka Allah terhadap si pelaku. Sedangkan ”adzab” di dunia, maka ia belum tentu benar-benar buruk, atau madharat, atau sebagai tanda rugi dan celaka bagi penerimanya. Serta juga belum tentu sebagai bentuk laknat dan murka Allah, melainkan bisa jadi justru sebalik dari itu semua. Karena banyak diantaranya yang ditimpakan memang bukan sebagai siksaan. Akan tetapi sebagai sebatas peringatan, pelajaran dan wasilah (sarana) penyadar juga sekaligus sebagai jalan penebus dosa yang sangat efektif, jika bisa diterima dengan sabar berdasar iman.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan (dosa) tangan manusi, supaya Allah membuat mereka merasakan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum: 41).

“مَنْ يُـرِدِ اللهُ بِهِ خَـيْرًا يُصِبْ مِنْهُ” (رواه البخاري و أحمد)

“Barangsiapa yang Allah kehendaki untuknya kebaikan maka Allah justru akan memberikan musibah kepadanya” (HR Al-Bukhari dan Ahmad).

“إِذَا أَحَبَّ اللهُ قَـوْمًا ابْتَلاَهُـمْ” (رواه الترمذي و أحمد و البيهقي)

”Apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan memberikan ujian dan cobaan kepada mereka” (HR At-Turmudzi, Ahmad dan Al-Baihaqi).

Kaidahnya bahwa, seluruh adzab dan bencana keburukan serta kerusakan yang terjadi di dunia, adalah akibat dari ulah kotor dan prilaku dosa tangan-tangan manusia. Hanya saja kita tidak selalu tahu, tangan kotor manusia yang mana itu. Sebagaimana perlu diingat bahwa, segala bencana adzab, seburuk dan sedahsyat apapun, hanyalah sebagian kecil saja dari akibat dan pembalasan buruk yang seharusnya. Karena sebagian besarnya justru Allah ampunkan, atau masih Allah simpan untuk adzab akhirat kelak, kecuali jika ada tobat yang diterima atau dapat karunia ampunan. Karena andai pembalasan adzab itu ditimpakan persis sesuai dengan kadar dosa yang telah diperbuat, niscaya akan sirna dan musnahlah semuanya tanpa sisa!  

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, padahal Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS. Asy-Syuuraa: 30).  

“Dan seandainya Allah (berkehendak) menghukum manusia (sepadan) dengan kedzaliman mereka, niscaya tidak akan disisakan-Nya di muka bumi ini satupun makhluk melata. Tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya. (QS. An-Nahl: 61).  

“Dan sekiranya Allah (berkehendak) menghukum manusia (setara) dengan (dosa) yang mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan di atas permukaan bumi ini satupun mahluk melata. Akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu. Maka apabila datang ajal (ketentuan) mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya” (QS. Faathir: 45).

Di akhirat, kaidahnya: setiap orang akan diadzab, dengan kehendak Allah, sesuai dosa-dosanya sendiri, dan tidak seorangpun terkena adzab akibat dosa orang lain, siapapun dia. Adapun di dunia, maka adzab yang turun akibat suatu dosa, bisa jadi tidak hanya menimpa pelakunya saja, melainkan juga mengenai orang lain, sebagai imbas dan konsekuensi sunnatullah. Bahkan mungkin saja akibat buruk di dunia, berupa adzab dan bencana, dari suatu dosa, justru tidak menimpa pelakunya, melainkan mengenai orang dan pihak lain. Tentu saja terdapat banyak hikmah di baliknya, seperti telah disebutkan.

“(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul (menanggung akibat) dosa orang lain; Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh (balasan) selain apa yang telah diusahakannya (sendiri)” (QS. An-Najm: 38-39).

Katakanlah: “Apakah Aku akan mencari tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.” (QS. Al-An’aam: 164).

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’adzab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Israa’: 15).

(Lihat juga: QS. Faathir: 18; QS. Az-Zumar: 7). 

“Dan peliharalah dirimu (waspadalah) dari adzab (pembalasan sebagai hukuman) yang (jika terjadi) tidak hanya khusus menimpa orang-orang yang dzalim (yang berdosa) saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfaal: 25).

عَنْ نَافِعِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ قَالَ حَدَّثَتْنِي عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يَغْزُو جَيْشٌ الْكَعْبَةَ فَإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنْ الْأَرْضِ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ”، قَالَتْ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ وَفِيهِمْ أَسْوَاقُهُمْ وَمَنْ لَيْسَ مِنْهُمْ؟ قَالَ: “يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ثُمَّ يُبْعَثُونَ عَلَى نِيَّاتِهِمْ” (رواه البخاري والترمذي وابن ماجة وأحمد).

Dari Nafi’ bin Jubair bin Muth’im berkata, telah menceritakan kepada saya ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada sepasukan tentara yang menyerang Ka’bah, ketika mereka sampai di sebuah tanah lapang, mereka ditenggelamkan seluruhnya mulai yang pertama hingga yang terakhir”. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata; Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana mereka ditenggelamkan seluruhnya mulai yang pertama hingga yang terakhir, sedangkan didalamnya ada rakyat jelata dan yang bukan dari golongan mereka (yang tidak punya maksud sama)?” Beliau menjawab: “Mereka akan ditenggelamkan seluruhnya mulai yang pertama hingga yang terakhir, kemudian mereka akan dibangkitkan pada hari qiyamat sesuai dengan niat mereka masing-masing”. (HR. Al-Bukhari, At-Tirmidzi< Ibnu Majah dan Ahmad).

عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُنَّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا فَزِعًا يَقُولُ: “لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدْ اقْتَرَبَ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ”، وَحَلَّقَ بِإِصْبَعِهِ الْإِبْهَامِ وَالَّتِي تَلِيهَا قَالَتْ زَيْنَبُ بِنْتُ جَحْشٍ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: “نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ” (متفق عليه).

Dari Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepadanya dalam kondisi ketakutan sambil berkata: “Laa ilaaha illallah, celakalah bagi bangsa Arab karena keburukan yang telah dekat. Hari ini telah dibuka benteng Ya’juj dan Ma’juj seperti ini”. Beliau memberi isyarat dengan mendekatkan telunjuknya dengan jari sebelahnya. Zainab binti Jahsy berkata, Aku bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa sedangkan di tengah-tengah kita masih ada orang-orang yang shalih?”. Beliau menjawab: “Ya benar jika kebusukan (kejahatan) telah merajalela”. (HR. Muttafaq ‘alaih).

“Para utusan (malaikat) itu berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa adzab yang menimpa mereka Karena sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?”. (QS. Huud: 81).

Diantara hikmah di balik adzab dunia, baik akibat dosa sendiri, maupun sebagai imbas dosa orang lain, misalnya: sebagai ujian keimanan dan kesabaran, sebagai pelejit iman dan peningkat derajat, sebagai penghapus dosa, sebagai sarana penghimpun pahala, sebagai sarana pendorong muhasabah, evaluasi dan introspeksi diri, sebagai faktor dan sarana penyadar bagi pelaku untuk tobat, istighfar dan ingat Allah, sebagai peringatan dan pelajaran bagi yang lain, sebagai faktor penanam dan penguat rasa khauf (takut) kepada Allah, sebagai pengingat dan penyadar atas adanya tanggung jawab sosial bagi semua, dan lain-lain.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ” (رواه الترمذي وقَالَ : هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ).

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ujian akan senantiasa menimpa orang mukmin laki-laki dan perempuan, pada diri, anak dan hartanya hingga ia bertemu Allah nanti, dengan tanpa membawa satu kesalahanpun (karena sudah terhapus oleh uian-ujian yang dialaminya.” (HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata: Hadits ini hasan shahih).

سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنْ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا” (رواه البخاري وأحمد).

(‘Amir berkata), aku mendengar An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan orang yang menegakkan hukum Allah dan orang yang jatuh (dalam pelanggaran) terhadapnya seperti sekelompok orang yang bertaruh (dalam berbagi tempat) di sebuah kapal (yang mereka tumpangi), maka sebagian dari mereka ada yang mendapat tempat di atas dan sebagian lagi di bagian bawah kapal itu. Orang yang berada di bagian bawah bila ingin mengambil air, merekapun harus melewati orang-orang yang berada di bagian atas. Lalu mereka berkata (diantara mereka): “Seandainya saja kita membuat satu lubang di bagian kita (dari kapal ini) saja kapal ini, sehingga kita tidak perlu mengganggu orang yang berada di atas kita”. Bila orang yang berada di atas membiarkan saja apa yang diinginkan orang-orang yang di bawah itu maka mereka akan binasa semuanya. Namun bila mereka mau mencegah orang-orang itu, maka merekapun selamat dan selamatlah semuanya”. (HR. Al-Bukhari dan Ahmad).

Advertisements

Leave a comment

Filed under Tazkiyah dan Akhlak

Berbagi Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s