Mendambakan Aqidah Yang Menguatkan dan Menyatukan

Dulu dan memang semestinya begitu bahwa, aqidah Islam merupakan faktor paling utama yang menguatkan kehidupan, membangun keimanan dan mengokohkan keyakinan! Akan tetapi mengapa sekarang seakan-akan aqidah justru sering berbalik melemahkan, membingungkan, merancukan, menanamkan keraguan dan bahkan sampai meluluh lantakkan sendi-sendi kekuatan?

Dulu dan memang mestinya begitu bahwa, aqidah Islam itu merupakan faktor penyatu dan pemersatu paling utama antar beragam elemen dan kelompok kaum mukminin! Namun mengapa sekarang tak jarang seolah-olah aqidah malah beralih fungsi dan peran menjadi faktor pemecah belah utama?

Nah, kita semua sangat mendambakan aqidah Islam bisa kembali “pulih” sebagaimana peran dan fungsinya pada generasi-generasi ideal terdahulu. Yakni sebagai aqidah yang menghidupkan kehidupan, menguatkan kekuatan, meninggikan derajat, memuliakan martabat, dan menyatukan ummat.

Sebagaimana bidang fiqih, bidang aqidahpun dipenuhi oleh berbagai bentuk perbedaan dan perselisihan di antara kelompok-kelompok ummat Islam sepanjang sejarah. Bahkan sifat ekstremitas sikap yang mewarnai dan menyertai perselisihan-perselisihan aqidah, umumnya, jauh lebih kuat dan lebih keras, bila dibandingkan dengan yang terjadi dalam perbedaan-perbedaan fiqih. Sehingga tingkat dampak kenegatifan dan akibat keburukan yang ditimbulkannya terhadap kondisi ummatpun jauh lebih tinggi dan lebih dahsyat.

Maka agar aqidah Islam bisa kembali dan senantiasa tampil sebagaimana peran dan fungsinya semula, yakni sebagai aqidah yang menghidupkan, menguatkan, meninggikan, memuliakan, menyatukan, dan seterusnya, maka penting sekali diperhatikan dan dicermati beberapa catatan mendasar seperti berikut ini:

  1. Kajian dan pembelajaran aqidah Islam harus dijauhkan dari dominasi pola pendekatan filsafat dan logika murni serta dari “manhaj firaqi”, yakni metodologi kajian aqidah melalui pola pendekatan firqah-firqah Islam sempalan, yang selama ini mendominasi metodologi kajian bidang aqidah, khususnya di perguruan-perguruan tinggi Islam, fakultas-fakultas, dan jurusan-jurusan studi keislaman. Serta wajib dikembalikan kepada ashalah-nya (keaslian dan keotentikannya) semula, sebelum masa dan era muncul dan maraknya beragam firqah dan sekte menyimpang. Yakni sebagai “aqidah islamiyah qur’aniyah” (aqidah Islam bermetodologi qur’ani), yang bercirikan antara lain: shahihah wa ashilah (benar dan orisinil/otentik), sahlah wa basithah (mudah dan sederhana), fithriyah (sesuai dan selaras dengan fitrah manusia yang suci), dan’amaliyah (lebih berorientasi pada aspek praktis [aspek amal], tentu setelah jelas dan benar bingkai teoritis syar’inya).
  2. Sebagian diantara beragam bentuk perselisihan, pertentangan dan perpecahan di bidang aqidah dan lain-lain, bisa dikatakan merupakan bagian ”warisan” dari generasi-generasi terdahulu. Misalnya bidang-bidang pertentangan dan perpecahan yang dipicu oleh perbedaan dan perselisihan seperti: seputar pemahaman dan penyikapan terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits Asma’ atau Shifat Allah, tentang madzhab takwil dan non takwil di bidang aqidah, terkait definisi/batasan Ahlussunnah Waljamaah (ASWAJA), seputar sikap pendikotomian atau pemilahan secara ideologis terhadap generasi ulama terdahulu antara salaf dan khalaf, dan lain-lain. Nah, menjadi kewajiban generasi kita saat ini, melakukan penataan ulang terhadap cara kita menerima beragam warisan ilmu dan sikap dari generasi-generasi pendahulu. Dimana kita harus ”cerdas” dengan hanya mewarisi yang serba benar, baik, positif dan konstruktif, dan inilah yang tentu terbanyak dan dominan, dari para pendahulu kita itu, salafus saleh dan khalafus-saleh-nya semuanya. Sedangkan terhadap sebagian sangat kecil ”warisan” yang negatif dan destruktif, seperti yang telah dicontohkan dimuka, maka kita wajib berupaya keras dan bekerja sama secara jujur dan sungguh-sungguh, agar semampunya bisa memutus mata rantai ”warisan” pertentangan dan perpecahan tersebut, serta tidak justru mempertahankan dan melanggengkannya atau apalagi malah menambah dan membiakkannya! Semoga!
  3. Jika dikaji secara obyektif metodologis dan dipikirkan secara jernih juga direnungkan secara mendalam, maka akan didapati fakta bahwa, kebanyakan perselisihan dan pertentangan yang menimbulkan perseteruan, permusuhan dan perpecahan berkepanjangan diantara beragam kelompok dan golongan ummat Islam sunni selama ini, yang tidak jarang tampak seolah-olah tidak ada titik temunya lagi, sebenarnya bukanlah perselisihan dan pertentangan yang hakiki, esensial atau substansial. Melainkan lebih dilatar belakangi oleh dominannya kerancuan persepsi pada beragam kalangan yang ”bertikai” seputar masalah-masalah dan topik-topik yang dipro-kontrakan. Sehingga yang paling dibutuhkan disini, adalah upaya-upaya bersama dari para ulama ahli lintas kelompok, dengan tujuan dan target utama untuk mendudukkan persoalan, mengklirkan permasalahan dan men-”jelentereh”-kan persilisihan yang ada. Maka dalam bidang aqidahpun termasuk sangat urgen dan mendesak sekali, jika kajian-kajian terhadap tema-tema kontroversial selalu diorientasikan ke arah upaya-upaya pengkliran dan pen-”jelentereh”-an tersebut. Dimana jika itu terwujud, meskipun tidak selalu bisa dicapai kesamaan pendapat dan kesatuan madzhab, maka setidaknya bisa terhindari adanya sikap-sikap ghulu (berlebih-lebihan) dan ekstrem dalam mengekspresikan perbedaan dan perselisihan. Disamping harapan terealisirnya kebersamaan dan persatuanpun, dengan demikian, juga insyaallah akan lebih dekat dan lebih riil!
  4. Dan oleh karena itu pula, maka kajian-kajian aqidah wajib selalu diorientasikan, diarus utamakan dan dititik tekankan pada bagian-bagian esensial dan substansial dari setiap masalah, topik atau tema yang diangkat, khususnya yang selama ini dikenal cukup konroversial. Karena pada titik-titik esensi dan substansi ini, hampir bisa dipastikan akan selalu terjadi kesepakatan diantara beragam kelompok dan golongan ummat yang secara umum masih berada di bawah payung besar Ahlussunnah Waljamaah (ASWAJA). Sementara itu terhadap bermacam ragam perbedaan dan perselisihan non esensial dan non substansial, yang umumnya terkait dengan cara, sarana, bahasa, istilah, sistematika, contoh realita dan sejenisnya, maka wajib disikapi secara hikmah dan proporsional, dengan berbekalkan keluasan wawasan (sa’atul ufuq), kelapangan dada (rahabatush shadr) dan keleluasaan sikap bertoleransi dan berkompromi (murunatul mauqif bit tasamuh wat tanazul).
  5. Kejujuran dan kesungguhan dalam upaya mencari kebenaran, kebersihan hati dari dominasi pengaruh hawa nafsu, terhapusnya fanatisme buta dari sikap diri, terenyahkannya kebencian dan kedengkian khususnya yang berlebihan, terjauhkannya sifat dan sikap ghulu (berlebih-lebihan), tergantikannya sifat suudzan (buruk sangka) dengan husnudzan (baik sangka), dipadu dengan sikap ketawadhukan, keterbukaan, dan kesiapan untuk menerima kebenaran serta kebaikan dari manapun sumber dan asalnya. Itu semua merupakan sifat-sifat dasar, karakter-karakter utama dan syarat-syarat pokok yang harus ada dan terpenuhi dalam diri pribadi setiap muslim atau muslimah, untuk bisa mendapatkan aqidah islamiyah yang bersih dan keimanan tauhid yang murni. Yakni dengan ciri dan fungsi seperti telah disebutkan sebagiannya dimuka: aqidah dan keimanan tauhid yang menghidupkan pikiran dan hati, menguatkan semangat dan motivasi, menstabilkan karakter dan sikap diri, menghebatkan rasa tanggung jawab dan jiwa peduli, melejitkan harapan, obsesi dan optimisme tinggi, menggerakkan kreatifitas dan daya juang tak kenal henti, memuliakan derajat, martabat dan posisi, mengokohkan wala’, mengeratkan ukhuwah dan memadukan potensi, menyatukan keragaman ummat disana sini, dan lain-lainnya lagi! Semoga Allah Ta’ala merahmati! Aamiin!
  6. Metodologi kajian, dakwah dan pendidikan akidah wajib diorientasi utamakan agar keimanan tauhid bisa ditanamkan demi mencetak pribadi-pribadi mukmin/mukminah ideologis. Dan pribadi ideologis adalah berarti yang senantiasa menjadikan kepentingan ideologi dan akidah Islam sebagai ruh, dasar dan landasan yang ”mendikte”, menentukan serta mengarahkan segala pilihan langkah dalam hidupnya, atau minimal sebagai faktor pertimbangan utama dalam seluruh aspek aktifitas yang dijalaninya, sebelum atau disamping faktor-faktor pertimbangan kepentingan lainnya. Intinya, jangan sampai pembelajaran akidah hanya bersifat atau berupa penyampaian materi-materi teoritis ”kering”, yang sekadar untuk diketahui dan dihapalkan saja, atau apalagi justru untuk diperdebatkan.

SEMOGA.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Aqidah, Fiqih Pemahaman

Berbagi Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s