Siapakah Ahlussunnah Waljamaah?

Salah satu istilah atau tema atau masalah yang paling urgen dan mendesak sekali untuk diklirkan serta di-jelentereh-kan oleh para ulama lintas madzhab, organisasi, dan gerakan dakwah Islam yang secara umum masih berada di bawah naungan payung akidah dan manhaj (pedoman baku) Ahlussunnah Waljamaah, adalah tentang definisi, kriteria, parameter dan batasan firqah Ahlussunnah Waljamaah itu sendiri.

Ya, istilah yang sangat indah ini, selama ini, justru masih lebih sering diliputi dan disertai beragam kerancuan, kesimpang siuran, kesemerawutan, dan bahkan pro kontra pertentangan yang semakin memperlebar sekaligus memperdalam jurang perpecahan dan perseteruan antar sesama kelompok Ahlussunnah Waljamaah sendiri.

Masalahnya, Ahlussunnah Waljamaah sepanjang ini lebih dominan menjadi ibarat rumah sangat kecil sekali yang hanya dihuni oleh kaum muslimin dari suatu kelompok atau golongan tertentu saja yang mengklaimnya. Karena mereka tidak mengizinkan kelompok-kelompok muslimin lain bahkan untuk ikut sekadar berteduh di terasnya.

Padahal mestinya, Ahlussunnah Waljamaah justru ibarat rumah sangat besar sekali yang bisa dan siap menampung serta menaungi tak terhitung jumlah penghuni diantara anggota beragam organisasi, jamaah, harakah, kelompok dan golongan ummat Islam dengan nama, madzhab dan ijtihad yang berbeda-beda. Namun hal itu hampir mustahil terwujud, bila yang dijadikan kriteria, parameter dan tolok ukur Firqah Najiyah ini masih tetap masalah-masalah khilafiyah furu’iyah seperti yang umum terjadi sampai hari ini!

Nah, agar Ahlussunnah Waljamaah bisa benar-benar jadi RUMAH BESAR bagi para pengikut beragam madzhab dan kelompok kaum muslimin, maka tidak bisa tidak kita harus mau dan mampu menata ulang, mengklirkan dan menyepakati definisi yang tepat serta proporsional untuknya! Dan, sekadar contoh saja, definisi itu bisa seperti berikut ini misalnya:

أَهْلُ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَةِ هُمُ المُسْلِمُوْنَ المُتَّبِعُوْنَ لسُنَّةِ سَيِّدِنَا رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، المُلْتَزِمُوْنَ بِأُصُوْلِ تَعَالِيْمِ دِيْنِ الإِسْلاَمِ المُجْمَعِ عَلَيْهَا بَيْنَ أَئِمَّة السَّلَفِ الصَّالِحِ وَالخَلَفِ الصَّالِحِ جَمِيْعًا

Ahlussunnah Waljamaah adalah kaum muslimin pengikut sunnah Sayyidina Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang berkomitmen dengan prinsip-prinsip/pokok-pokok ajaran agama Islam yang telah menjadi ijmak (kesepakatan) diantara imam-imam/ulama-ulama salafus saleh dan khalafus saleh seluruhnya.

Dan sebagai penjelas serta penegas bagi semua pihak, terkait kriteria, parameter, cakupan atau batasan golongan Ahlussunnah Waljamaah, sesuai definisi diatas, secara umum bisa diringkaskan dan disimpulkan dalam tiga kriteria/parameter utama sebagai berikut:

Pertama: Berkomitmen dan berpegang teguh dengan enam rukun iman menurut Ahlussunnah Waljamaah dengan segala konsekuensi prinsipilnya. Yakni: (1). Iman kepada Allah; (2). Iman kepada malaikat; (3). Iman kepada kitab-kitab Allah; (4). Iman kepada rasul-rasul Allah; (5). Iman kepada Hari Akhir; dan (6). Iman kepada taqdir Allah

Kedua: Berkomitmen dan berpegang teguh dengan lima rukun Islam menurut Ahlussunnah Waljamaah juga dengan segala konsekuensi prinsipilnya. Yaitu: (1). Bersyahadat dengan dua kalimah syahadat; (2). Menegakkan shalat; (3). Mengeluarkan zakat; (4). Berpuasa Ramadhan; dan (5). Menunaikan haji.

Ketiga: Berkomitmen dalam menjadikan tiga generasi pertama ummat ini (sahabat, tabiin dan tabiit tabiin) sebagai generasi terbaik dan sekaligus sebagai teladan serta panutan utama bagi kaum muslimin sesudah Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal itu sesuai tazkiyah (rekomendasi) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau (yang artinya): “Sebaik-baik generasi adalah generasiku (sahabat), lalu generasi sesudahnya (tabiin), lalu generasi berikutnya lagi (tabiit-tabiin)” (HR. Muttafaq ‘alaih dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu).

Jadi inti dan kesimpulannya bahwa, yang boleh dan harus dijadikan tolok ukur penanda kelompok Ummat yang masih tergolong Ahlussunnah Waljamaah hanyalah hal-hal prinsip aksiomatik baku didalam ajaran Islam yang telah menjadi ijmak diantara para ulama lintas madzhab. Dan bukan malah masalah-masalah khilafiyah ijtihadiyah furu’iyah non prinsipil seperti biasanya! Sekali lagi, bukan masalah-masalah khilafiyah ijtihadiyah furu’iyah non prinsipil seperti biasanya! Sehingga setiap orang Islam yang beriman dengan enam rukunnya tersebut, berislam dengan lima rukunnya itu dan bertauladan pada tiga generasi pertama Islam, berarti ia termasuk dalam golongan Ahlussunnah Waljamaah, apapun madzhab dan kelompoknya!

Semoga jelas dan bisa diterima serta disepakati lalu dikomitmeni oleh semua!

Marilah belajar bersatu dalam perbedaan dan keragaman!

Advertisements

Leave a comment

Filed under Fiqih Pemahaman

Berbagi Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s