Salaf Dan Khalaf

Sebagian kalangan, saat membincang tentang dua generasi Ummat ini, yakni generasi salaf (generasi terdahulu/awal) dan generasi khalaf (generasi belakangan/pelanjut), membincangnya dengan cara dan pola yang memposisikan serta menempatkan kedua generasi tersebut secara berhadap-hadapan, berlawanan dan bertentangan. Dimana akibatnya, jika mengikuti pola pikir, arah sikap dan sudut pandang ini, masing-masing kita akan dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama ekstrem. Dimana jika seseorang diantara kita memilih untuk mengikuti generasi ulama salaf, yang tidak lain adalah generasi sahabat, tabiin dan tabiit tabiin, maka ia akan menyandang gelar “salafi”, yang berarti pengikut dan penyuka generasi ulama salaf. Namun, disaat yang sama, predikat tersebut sekaligus juga bermakna, tentu menurut “madzhab” diatas, bahwa, dengan demikian, ia bukanlah pengikut dan penyuka generasi ulama khalaf (?!) Sedangkan bila ia lebih memilih untuk mengikuti generasi ulama khalaf, maka iapun akan memperoleh julukan “khalafi”, yang berarti pengikut dan penyuka generasi ulama khalaf. Akan tetapi, disaat yang sama, predikat tersebut sekaligus juga berkonotasi, tentu menurut “madzhab” di muka pula, bahwa, dengan begitu, ia bukanlah pengikut dan penyuka generasi ulama salaf (?!)

Dan akibatnya lagi, dengan “madzhab”, pola pikir dan sudut pandang tersebut diatas, penyikapan banyak kalangan terhadap para ulama terdahulu pun akhirnya jadi terbelah-belah dan terpilah-pilah! Serta lebih didasarkan pada sikap dasar “like and dislike”! Dimana sebagian kelompok hanya akan me-“like” ulama-ulama yang dinilainya “semadzhab” dan “segaris” dengannya, baik “salafi” maupun “khalafi”, dan di saat yang sama, akan men-“dislike” ulama-ulama lain yang telah dianggapnya berseberangan dengan “madzhab” dan “garis”-nya! Sementara itu kelompok yang lain pun akan mengambil sikap serupa secara sebaliknya!

Dan pertanyaan besarnya adalah: benarkah penyikapan “pemecah belahan” seperti itu? Siapakah yang menang dan diuntungkan dengan cara serta pola pewarisan demikian terhadap generasi ulama terdahulu, baik salaf-nya maupun khalaf-nya? Benarkah kelompok “salafi” atau “khalafi” yang akan menang dan diuntungkan, dengan “pertarungan” yang tidak pada tempat dan sasarannya, serta tanpa ujung pangkal tersebut? Sampai kapankah “warisan” perpecahan dan pertikaian yang sangat tidak produktif itu akan terus dipertahankan? Benarkah dengan cara penyikapan dan pewarisan seperti itulah, Ummat ini akan menempati posisi dan statusnya kembali sebagai “khairu ummah”, ummat terbaik, ummat terunggul, ummat terdepan, dan ummat terkuat?

Jika kita kaji lebih dalam secara obyektif dan kita renungkan secara lebih jernih, maka kita akan dapati bahwa, secara umum, sebenarnya generasi ulama salaf dan ulama khalaf adalah sama-sama berada pada garis Islam yang diwariskan oleh Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka semua berada di dalam satu untaian mata rantai yang sama, yang sambung menyambung, dari generasi satu ke generasi yang lain. Ulama khalaf adalah generasi belakangan yang merupakan penerus dan penyambung untaian mata rantai generasi pendahulunya, yang tidak lain adalah generasi salaf. Maka mereka seluruhnya, dengan demikian, adalah teladan dan panutan bagi kita semua. Sehingga jika generasi ulama salaf selama ini, dalam penyebutan, hampir selalu disertai dengan sifat saleh, sehingga menjadi salafus saleh, yakni generasi ulama salaf yang saleh, maka generasi ulama khalaf pun, agar adil, wajib pula disebut dengan generasi ulama khalafus saleh, yakni generasi ulama khalaf yang saleh! Karena, faktanya, seluruh ulama itu, memang sama-sama salehnya semuanya. Jadi prinsip dasarnya, secara umum, mereka semua, baik ulama salaf mapun ulama khalaf, adalah sama-sama berada di atas jalan Islam yang benar, jalan ash-shirathil mustaqim.

Hanya saja antar mereka, salafus saleh dan khalafus saleh, memang terdapat beberapa poin perbedaan pandangan dan perselisihan pemahaman, dalam masalah-masalah tertentu yang sangat terbatas, dan yang secara umum sebenarnya masih berada di dalam batas toleransi, serta belum masuk ke dalam wilayah prinsip. Namun sikap-sikap ekstrem dari sebagian pihaklah, seperti yang coba digambarkan dimuka, yang telah menjadikannya sebagai faktor pemisah dan persimpangan jalan antara generasi salaf dan khalaf, yang dengannya, seolah-olah mereka telah berada pada posisi yang saling bertikai, berseteru, berseberangan dan bermusuhan! Padahal mereka semua, yakni para ulama salafus saleh dan ulama khalafus saleh itu, hakekatnya sama-sama tetap berkomitmen dan bersepakat dalam prinsip-prinsip utama ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang telah menjadi ijmak sepanjang sejarah Islam. Dan wilayah kesepakatan dan ijmak diantara mereka ini, jauh lebih besar, lebih banyak dan lebih dominan, dibandingkan dengan wilayah perbedaan dan perselisihan diantara mereka, dalam beberapa tema kecil, sempit dan terbatas!

Maka, dengan demikian, fokus dan titik tekan pewarisan kita dari para ulama pendahulu itu, baik generasi salaf-nya maupun khalaf-nya, seharusnya lebih tertuju kepada tema-tema besar dan mendasar dari ajaran Islam, yang diwariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan yang telah menjadi ijmak serta konsensus antar generasi sepanjang sejarah Ummat.

Sementara itu, untuk bagian kecil dan terbatas yang diperselisihkan, adalah space opsi pilihan-pilihan, yang wajib disikapi secara hikmah, bijak dan arif. Dimana masing-masing dari kita bisa memilih madzhab dan pendapat manapun yang ditarjihnya (dikuatkannya), dengan tanpa disertai sikap mutlak-mutlakan. Bahkan yang harus ditonjolkan adalah sikap kesiapan untuk saling bertoleransi. Persis sebagaimana kaidah penyikapan terhadap masalah-masalah khilafiyah pada umumnya!

Dan kesimpulan terpentingnya adalah, mari kita jadikan para ulama salafus saleh dan ulama khalafus saleh itu seluruhnya, tanpa pembedaan yang mendasar dan berarti, sebagai panutan-panutan, teladan-teladan, dan rujukan-rujukan kita, dalam iman, ilmu, amal, dakwah dan sikap. Serta jangan lagi ada sikap-sikap tidak hikmah, tidak bijak, tidak dewasa, tidak relevan dan tidak proporsional, yang membeda-bedakan diantara mereka hanya berdasarkan kaidah “like and dislike” (suka dan benci). Memangnya siapa dan apa kapasitas kita yang super awam dalam segala hal ini: awam dalam iman, awam dalam ilmu, awam dalam amal, awam dalam dakwah, awam dalam jihad, dan lain-lain, sampai-sampai kita merasa berhak dan berwenang untuk me-“like” (menyukai/mencintai) dan men-“follow” (mengikuti) ulama A diantara generasi salafus saleh maupun khalafus saleh, namun disaat yang sama juga men-“dislike” (tidak menyukai/membenci) dan meng-“unfollow” (enggan mengikuti) ulama B diantara para teladan itu?! Melainkan mari kita sama-sama me-“like” dan men-“follow” para ulama salafus saleh dan khalafus saleh itu seluruhnya, tanpa kecuali! Semoga kita bisa beroleh bagian dari keberkahan iman, ilmu, amal, dakwah dan perjuangan mereka! Aamiin!

Wallahu a’lam, wa Huwal Muwaffiq ila aqwamith thariq, wal Hadi ila sawa-issabil!

Leave a comment

Filed under Fiqih Pemahaman, Tazkiyah dan Akhlak

Berbagi Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s