Qurban Bukan Sedekah Daging

Bismillah, Allahu akbar. Alhamdulillah, was-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:

Tanpa banyak disadari, ternyata selama ini telah terjadi pergeseran persepsi, pemahaman dan penyikapan dari banyak pihak umat Islam terhadap esensi syariah qurban, sehingga hampir menjadi sekadar momen berbagi dan sebatas sarana bersedekah daging. Meskipun dalam qurban terdapat aspek dan dimensi sosial dengan berbagi dan bersedekah, namun itu sama sekali bukanlah esensi dan substansinya.

Esensi dan hakekat qurban pada setiap hari raya Idul Adha, seperti yang segera hadir beberapa hari ini, justru terletak pada prosesi penyembelihan salah satu dari tiga jenis hewan ternak, sebagai sebuah ibadah ritual persembahan spesial, wujud penghambaan, wasilah (sarana) taqarrub (pendekatan diri) dan syiar deklarasi tauhid hanya kepada Allah Ta’ala. Sedangkan porsi berbagi atau bersedekah daging dan semacamnya, hanyalah sebatas efek dan konsekuensi saja dari ibadah istimewa ini. Tak beda seperti efek kesehatan misalnya dan semacamnya yang didapat seorang muslim dari ibadah shalat, atau puasa, atau haji, dan lain-lain, yang dilakukannya.

Sehingga seseorang yang berqurban dengan niat dan motivasi utama untuk sekadar bersedekah daging, secara umum hampir sama dengan yang menjalankan shalat misalnya dengan niat dan motivasi utama sekadar untuk mendapatkan manfaat kesehatan dari gerakan-gerakan yang terbukti menyehatkan dalam praktik ibadah paling asasi tersebut. Jadi intinya, kita harus menunaikan prosesi penyembelihan hewan qurban, dengan niat dan motivasi utama sebagai ibadah persembahan ritual, bentuk deklarasi iman dan tauhid, serta sekaligus wasilah taqarrub (sarana pendekatan diri) kepada-Nya. Adapun tentang niatan-niatan dan motivasi-motivasi lain seperti bersedekah dan semacamnya, yang juga ada dan menyertai, maka itupun tidak mengapa, selama sifat dan kapasitasnya sebatas sebagai faktor penyerta tambahan, dan bukan yang utama atau asasi.

Tentu saja banyak potensi akibat buruk dan dampak negatif dari dominannya persepsi dan penyikapan qurban sebagai sekadar momen sedekah daging tersebut. Disamping secara sudut pandang syar’i memang tidak benar, kesalahan persepsi itu juga bisa berakibat terabaikannya banyak ketentuan dan syarat ritual ibadah qurban yang menjadikan prosesi penyelenggaraan ibadah spesial hari raya Idul Adha tersebut tidak sempurna atau bahkan bisa lebih fatal lagi, membuatnya tidak sah.

Karena bagi yang berpersepsi salah seperti itu, utamanya bila menjadi pengelola qurban, maka yang akan menjadi fokus perhatiannya, hanyalah yang penting hewan tersembelih dengan cara syar’i yang menjadikannya halal dimakan, dikonsumsi dan dibagi. Itu saja. Sedangkan apakah prosesi penyembelihan dan pengelolaan telah memenuhi berbagai syarat ketat dan ketentuan detail yang membuat qurban sah sebagai sebuah bentuk ibadah yang sangat spesial, maka itu semua bisa lepas sama sekali dari kepedulian dan perhatiannya. Dan tentu saja, dari sudut pandang syar’i, itu berbahaya sekali.

SEMBELIHAN (DZABA-IH) DI DALAM ISLAM:

Perlu dipahami dan diingat bahwa, di dalam Islam terdapat dua macam sembelihan. Pertama, sembelihan penghalalan (dzaba-ih dzakah/tadzkiyah), dengan tujuan sekadar agar hasil sembelihan menjadi halal dikonsumsi. Kedua, sembelihan ritual (dzaba-ih nusuk/‘ibadah), sebagai ibadah persembahan yang merupakan bukti penghambaan dan ketaatan kepada Allah, dalam rangka menjalankan syariah-Nya dan mengikuti sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Dimana antara kedua jenis sembelihan tersebut, terdapat banyak sekali perbedaan yang sebagian besarnya sangat esensial dan substansial. Baik dalam hakekat masing-masing, konsekuensi syar’inya, dimensinya, prosesinya, syarat-syaratnya, dan hal-hal lainnya.

Dalam sembelihan penghalalan (dzaba-ih dzakah/tadzkiyah), masalah utamanya hanya terkait dengan apakah hasil sembelihan itu halal atau haram untuk dimakan dan dikonsumsi. Dan untuk tujuan itu syaratnya sangat sederhana sekali. Yakni cukup dengan tiga syarat saja, yaitu: satu, hewan yang disembelih tidak termasuk yang haram dimakan; dua, penyembelihnya seorang muslim; dan tiga, disebut nama Allah saat penyembelihan, minimal dengan ucapan bismillah.

Sedangkan dalam sembelihan ritual ibadah (dzaba-ih nusuk/’ibadah), masalah utamanya terkait dengan apakah sembelihan yang ditunaikan telah sah ataukah tidak sebagai bentuk ibadah persembahan kepada Allah Ta’ala, sesuai syarat-syarat detail dan rinci yang telah ditetapkan. Bahkan lebih dari itu, masalahnya juga masuk dalam ranah sunnah atau bid’ah, dan lebih jauh lagi sampai ke wilayah tauhid atau syirik. Dimana jika benar-benar sesuai dengan syarat dan ketentuan ketat yang ditetapkan, sembelihan ritual ibadah adalah merupakan bentuk deklarasi tauhid pelakunya. Sementara itu bila menyalahi syarat dan ketentuan, sembelihan ritual yang dilakukan seseorang tidak hanya tidak halal dan tidak sah, atau juga bid’ah, melainkan bahkan bisa merupakan sebuah bentuk kesyirikan dan prilaku penyekutuan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan demi sah apalagi sempurnanya pelaksanaan sembelihan ritual ibadah, syarat-syarat yang harus dipenuhi tidaklah sesederhana sembelihan biasa yang dengan tujuan sekadar agar dagingnya halal dimakan saja, melainkan sangat ketat, detail dan banyak sekali, sebagaimana yang bisa dilihat dalam contoh syarat-syarat ritual pelaksanaan penyembelihan hewan qurban yang insya-allah akan disebutkan dibawah nanti.

Dan bila sifat sembelihan penghalalan sangat longgar sekali terkait dengan macam-macamnya, kebutuhan atau tujuannya, jenis hewannya, kriteria-kriterianya, momen atau waktunya, tempat dan lain-lainnya, maka dalam hal sembelihan ritual ibadah, sifatnya sangat terbatas sekali. Dimana hanya ada tiga jenis saja sembelihan ritual ibadah yang dituntunkan dan dibenarkan di dalam ajaran Islam kita. Dan ketiganya adalah: sembelihan qurban, sembelihan aqiqah dan sembelihan terkait haji dan umrah di Tanah Suci Mekkah, yang biasa dikenal dengan nama hadyu atau dam.

Sehingga semua bentuk sembelihan ritual persembahan, diluar ketiga jenis tersebut, yang tak jarang dilakukan sebagian masyarakat sebagai syarat ritual bagi terwujudnya kepentingan dan hajat tertentu dalam hidup mereka, adalah merupakan bentuk kebid’ahan, penyimpangan dan bahkan kesyirikan. Seperti misalnya sembelihan-sembelihan ritual persembahan yang acapkali dijadikan sebagai syarat ritual bagi beragam hajat hidup semisal penyembuhan penyakit, percepatan jodoh, perlindungan diri atau tempat, pelancaran bisnis, pensuksesan karir, pendirian rumah atau gedung apapun, pembangunan jembatan, penolakan bala’, “pensedekahan bumi”, dan lain-lain.

QURBAN IBADAH RITUAL SPESIAL

Dalam pelaksanaan syariah qurban sekarang terdapat beberapa aspek dan dimensi, yang harus diperhatikan dan sebisa mungkin dipenuhi. Pertama, aspek atau dimensi ritual; kedua aspek atau dimensi syiar; ketiga aspek atau dimensi sosial; dan keempat, aspek atau dimensi dakwah. Keempat aspek dan dimensi tersebut tentu saja penting, dan sebisanya harus diupayakan agar diwujudkan semuanya.

Namun yang merupakan inti, esensi dan substansi dari syariah qurban ini tetaplah dimensi ibadah ritualnya, dan sama sekali bukan aspek sosialnya. Maka aspek dan dimensi inilah yang harus menjadi landasan niat dan dasar motivasi utama setiap pequrban, sekaligus yang juga harus mendominasi persepsi, orientasi, dan penyikapan setiap pengemban amanah penyembelihan qurban dari masyarakat, baik itu panitia qurban di masjid-masjid, lembaga-lembaga sosial, maupun yang lainnya.

Dan itu harus dibuktikan dengan perhatian yang lebih diutamakan dan diprioritaskan terhadap aspek pemenuhan syarat-syarat yang menjamin sah dan atau sempurnanya prosesi penyelenggaraan qurban dalam kapasitasnya sebagai ibadah ritual spesial, disamping merupakan syiar utama hari raya Idul Adha, sebelum perhatian terhadap aspek pemanfaatan dan pendistribusian yang bersifat sangat longgar sekali. Dimana di dalamnya terdapat unsur sedekah dan berbagi, yang hanya merupakan salah satu saja dari beragam bentuk pemanfaatan dan bermacam sasaran pengalokasian hasil sembelihan hewan ibadah qurban.

Mungkin demi menegaskan dominan, kental dan spesialnya aspek ritual ibadah tersebutlah, sehingga Allah Ta’ala menggandengkan dan mensejajarkan perintah berqurban serta ibadah menyembelih, dengan perintah dan ibadah ritual nomor satu di dalam Islam, yakni shalat! Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Maka dirikanlan shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah (karena Tuhanmu pula)” (QS. Al-Kautsar [108]: 2). “Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadah sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam; tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (kepada Allah)” (QS. Al-An’am [6]: 162).

SYIAR UTAMA IDUL ADHA

Salah satu aspek sangat penting yang harus diperhatikan dan diupayakan agar diwujudkan dalam prosesi pelaksanaan ibadah qurban, adalah sifat dan kapasitasnya sebagai syiar utama hari raya Idul Adha. Karena memang qurbanlah amalan yang paling utama, mulia dan istimewa diantara amalan-amalan hari raya ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Tiada satu amal pun yang dilakukan seorang anak manusia pada Yaumun-Nahr (hari raya qurban) yang lebih dicintai oleh Allah selain menumpahkan/mengalirkan darah (hewan qurban yang disembelih). Maka berbahagialah kamu karenanya” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim dengan sanad yang shahih).

Dan perlu diingat serta diperhatikan bahwa, aspek syiar paling utama dari ibadah qurban yang dimaksud itu adalah pada prosesi penyembelihannya, dan bukan pada pendistribusiannya misalnya atau yang lainnya. Karena memang prosesi penyembelihanlah yang menjadi esensi dan substansi utama ritual ibadah dan syariah berqurban ini. Dimana untuk menguatkan makna tersebut, dalam hadits dimuka, Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sampai sengaja memilih ungkapan bahasa yang sangat vulgar untuk membahasakan qurban sebagai amal ibadah yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala di hari raya Idul Adha, yakni mengungkapkannya dengan kata-kata “ihraqid dam/iraqatid dam”, yang berarti menumpahkan/mengalirkan darah (hewan qurban yang disembelih).

Oleh karena itu penting sekali menjadi perhatian besar semua pihak yang berkepentingan, baik pequrban sendiri, para panitia maupun khususnya lembaga-lembaga sosial pengemban amanah qurban kaum muslimin bahwa, kepentingan menyemarakkan dan apalagi tujuan menghidupkan syiar ibadah dan sunnah penyembelihan hewan qurban, harus menjadi salah satu faktor pertimbangan utama dalam penyebaran hewan qurban yang tersedia dan pelaksanaan penyembelihannya.

Disamping itu janganlah semangat pengoptimalan pemberdayaan dan pelipat gandaan manfaat pendistribusian, sampai mengorbankan dan menghilangkan aspek syiar dari prosesi ritual penyembelihan hewan qurban. Sebagai sekadar contoh misalnya, salah satu bentuk pengelolaan qurban, yang paling berpotensi bisa “menghapus” aspek dan dimensi syiar dari ritual penyembelihan hewan persembahan ini, adalah proyek pengalengan dan pengkornetan daging qurban. Secara sudut pandang syar’i, sebenarnya pengalengan dan pengkornetan ini bisa saja tetap ditolerir dan dibolehkan. Apalagi bila dilihat dari sudut dan aspek pemberdayaan serta pengoptimalan manfaat.

Namun ada dua hal yang wajib diperhatikan disini. Pertama, pengawalan terhadap proses penyembelihan dan pengelolaan, haruslah ketat, demi memastikan termenuhinya syarat-syarat dan terlaksananya ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan, dan agar jangan sampai ada yang dilanggar, utamanya bila pelanggaran bisa berakibat tidak sahnya sembelihan hewan sebagai bentuk amal ibadah ritual persembahan kepada Allah.

Kedua, meskipun ditolerir, namun metode pengalengan dan pengkornetan tetap tidak dibenarkan bila sampai dijadikan sebagai kaidah dan prioritas utama dalam pelaksanaan dan pengelolaan qurban. Kapasitas dan porsinya seharusnya hanya sebagai semacam “pengecualian” saja. Sehingga prosentase hewan qurban yang dimasukkan dalam proyek pengalengan dan pengkornetan, tetaplah harus lebih kecil daripada yang diselenggarakan dengan cara dan sistem konvensional biasa seperti yang dikenal selama ini. Karena jika prosentase yang dikalengkan dan dikornetkan lebih besar apalagi bila malah semuanya, dimana pelaksanaannya akan terpusat pada satu, dua atau tiga titik lokasi saja misalnya, maka akibat buruk dan dampak negatifnya akan sangat dahsyat sekali. Soalnya dengan demikian, berarti kesemarakan syiar ritual ibadah dan sunnah penyembelihan hewan qurban, akan otomatis hilang dan sirna, atau setidaknya sangat minim sekali di tengah-tengah masyarakat. Dan tentu saja kondisi seperti ini tidak boleh dan tidak dibenarkan terjadi!

SYARAT RITUAL IBADAH QURBAN

Sebagai dalil utama penegas demikian kentalnya ritualitas ibadah dan syariah qurban, kita dapati syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan bagi sah dan atau sempurnanya ibadah istimewa ini, mayoritasnya atau bahkan semuanya merupakan kekhasan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan spesial ibadah ritual spiritual. Dimana seluruh syarat dan ketentuan tersebut sama sekali tidak berlaku dalam sembelihan biasa non ibadah ritual, dan yang sekadar hanya agar daging hasil sembelihan halal dimakan semata. Maka mari kita cermati bersama paparan singkat berikut tentang syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan tersebut.

Tidak seperti syarat jenis sembelihan penghalalan yang sangat sederhana dan simple sekali, syarat-syarat penyembelihan hewan qurban sebagai sebuah bentuk ibadah ritual, sangatlah banyak sekali, detail sekali, dan ketat sekali. Baik itu terkait dengan syarat-syarat keabsahannya, maupun syarat-syarat kesempurnaannya. Pula baik hal itu terkait dengan syarat-syarat ketat seputar jenis hewannya, umurnya, kriteria-kriterianya, batas waktu pelaksanaannya, prosesi penyembelihannya, pemanfaatan dan pendistribusiannya, maupun yang lain-lainnya.

  1. JENIS HEWAN QURBAN

Qurban tidak sah kecuali dengan salah satu dari tiga jenis hewan ternak saja, yaitu: unta, sapi (kerbau dimasukkan dalam kategori sapi) dan kambing dengan kedua jenisnya: domba atau kambing kibas dan kambing jawa. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah) (QS. Al-Hajj: 34). Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ berkata: “Sejumlah kalangan menyebutkan adanya ijmak diantara para ulama bahwa, ibadah qurban tidak sah kecuali hanya dengan unta, sapi dan kambing saja. Tidak sah dengan selain tiga jenis itu”.

Begitu pula Imam Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid berkata: “Dan mereka (para ulama itu) seluruhnya telah berijmak bahwa, tidak boleh berqurban dengan selain hewan ternak (unta, sapi dan kambing). Meskipun ada riwayat dari Imam Al-Hasan bin Shaleh bahwa, beliau berkata: Boleh berqurban dengan sapi liar untuk tujuh orang dan juga dengan rusa untuk satu orang”. Dan diantara sedikit sekali ulama yang berselisih pendapat dalam hal ini adalah juga madzhab Dzahiri. Imam Ibnu Hazm dalam kitab Al-Muhallaa mengatakan bahwa, diperbolehkan berqurban dengan hewan apapun yang halal dimakan. Namun madzhab ini sangat lemah sekali, karena menyalahi praktik berabad-abad, dan telah hampir menjadi ijmak, bahkan sebagian ulama telah menyatakannya sebagai ijmak seperti dalam kutipan-kutipan diatas.

  1. UMUR HEWAN QURBAN

Selain dibatasi hanya pada tiga jenis hewan ternak yang telah disebutkan itu, ada lagi syarat ketat lain yang menjadi ciri syarat ibadah ritual. Yakni yang terkait dengan batas  minimal umur hewan ternak yang boleh dan sah dijadikan qurban. Dimana jika seekor hewan ternak, baik unta, sapi maupun kambing, belum mencapai umur tersebut, maka tidak boleh dan tidak sah sebagai qurban. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Janganlah kalian menyembelih (untuk qurban) kecuali hewan ternak musinnah (yang telah cukup umur). Tapi jika sulit, maka sembelihlah jadza’ah (kambing muda) dari jenis domba” (HR. Muslim).

Dan batasan hewan musinnah tersebut, menurut jumhur ulama, kalau dari unta adalah yang telah mencapai umur lima tahun penuh, dari sapi adalah yang telah berumur dua tahun penuh, dan dari kambing adalah yang telah genap satu tahun. Khusus untuk kambing jenis domba sebenarnya terjadi perbedaan pendapat. Dimana menurut madzhab Hanafi dan Hambali, diperbolehkan berqurban dengan domba yang baru berumur enam bulan, namun bagi madzhab Maliki dan Syafi’i tetap harus berumur satu tahun penuh. Dan perselisihan ini terpulang kepada perbedaan pendapat mereka tentang makna dan batas umur domba jadza’ah (domba muda) yang disebutkan dalam hadits diatas dan lainnya. Sehingga demi amannya, untuk kambing sebaiknya ditetapkan dan dipilih saja minimal berumur satu tahun untuk kedua jenisnya.

  1. KRITERIA-KRITERIA HEWAN QURBAN

Disamping faktor jenis dan umur, agar sah sebagai sembelihan ritual ibadah qurban, hewan ternak yang dipilih juga wajib memenuhi kriteria-kriteri tertentu terkait dengan kondisi kesehatan fisiknya.  Dimana intinya, hewan ternak yang dipih sebagai qurban sebisa mungkin haruslah yang sehat sempurna, atau minimal tidak bercacat, khususnya dengan kecacatan yang nyata, jelas, menonjol dan mencolok.

Karena terdapat beberapa jenis kecacatan yang membuat hewan ternak tidak boleh dan tidak sah sebagai qurban. Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Ada empat kondisi hewan yang tidak sah sebagai qurban: yang cacat mata secara nyata dan jelas, yang pincang secara nyata dan jelas, yang sakit secara nyata dan jelas, dan yang sangat kurus sampai (ibarat) tulangnya tak bersungsum” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasai, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi berkata: (hadits ini) hasan shahih).

Para ulama menyebutkan bahwa, kondisi cacat yang bisa menghalangi sahnya seekor hewan ternak untuk dijadikan sebagai qurban, tidaklah terbatas pada empat jenis tersebut saja. Melainkan bisa juga mencakup kondisi-kondisi cacat lain, dimana tingkat atau sifat kecacatannya sudah masuk kategori sangat jelas, nyata, menonjol atau mencolok.

  1. KADAR MINIMAL SAHNYA QURBAN DAN QURBAN PATUNGAN

Batas atau kadar minimal sahnya ibadah qurban bagi seseorang atau satu rumah adalah berqurban dengan seekor kambing, atau dengan sepertujuh unta atau sepertujuh sapi bagi yang berpatungan dengan orang lain. Jadi seekor kambing dengan syarat dan ketentuan yang telah dijelaskan dimuka, hanya sah dijadikan qurban untuk satu orang atau satu rumah saja. Sehingga jika ada dua orang apalagi lebih, berpatungan dalam berqurban dengan seekor kambing, maka itu hanya akan berpahala sebagai sekadar sedekah daging saja di hari raya qurban, akan tetapi tidak sah dan tidak bernilai sebagai ibadah qurban. Begitu pula dengan qurban patungan unta atau sapi, dimana jika jumlah pequrban yang ikut terdaftar di dalamnya melebihi tujuh orang, maka dengan demikian ibadah qurban unta atau sapipun menjadi tidak sah, dan dagingnya yang dibagi-bagipun hanya bernilai dan berpahala sebagai sebatas amal sedekah daging semata.

Sahabat Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dulu, seseorang berqurban dengan seekor kambing atas namanya dan atas nama keluarganya sekaligus. Lalu merekapun ikut makan (dari qurban masing-masing), dan memberikan (sebagiannya) kepada yang lain” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Sementara itu sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu bercerita: Di Hudaibiyah dulu, kami menyembelih bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, seekor unta untuk tujuh orang, dan seekor sapi juga untuk tujuh orang. Dalam lafadz yang lain (dikatakan): Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar kami berpatungan dalam menyembelih unta dan sapi, dimana tujuh orang menyembelih seekor dari masing-masing hewan ternak tersebut. Dan dalam redaksi hadits yang lainnya lagi (dituturkan): Maka seekor sapipun disembelih atas nama tujuh orang, dimana kami berpatungan di dalamnya (HR. Muslim).

  1. URUTAN KEUTAMAAN QURBAN

Dari aspek dan dimensinya sebagai ibadah ritual, menurut para ulama, urutan keutamaan qurban adalah sebagai berikut. Urutan pertama, berqurban dengan seekor unta untuk satu orang atau satu keluarga serumah; Kedua, berqurban dengan seekor sapi untuk satu orang atau satu keluarga serumah; Ketiga, berqurban dengan seekor kambing kibas atau domba; Keempat, berqurban dengan seekor kambing jawa; Kelima, berqurban dengan seekor unta secara patungan diantara maksimal tujuh orang atau tujuh rumah; Dan urutan keenam, berqurban dengan seekor sapi secara patungan diantara maksimal tujuh orang atau tujuh rumah.

Adapun untuk masing-masing jenis diantara ketiga hewan qurban tersebut, maka yang lebih afdhal, lebih baik dan lebih tinggi nilai ibadahnya, adalah yang lebih sempurna secara kriteria, baik dari aspek gemuk atau besarnya, sehatnya maupun juga tampilannya.

Jadi, dengan demikian, dari sudut pandang, aspek dan dimensi ritual, tujuh orang yang berqurban dengan tujuh ekor kambing misalnya adalah lebih afdhal dan lebih baik daripada tujuh orang lainnya yang berqurban secara patungan dengan seekor unta atau seekor sapi. Dan hal itu, seperti yang telah ditegaskan dimuka, karena esensi ibadah qurban terletak pada prosesi penyembelihan hewan yang diqurbankan. Sehingga jika yang disembelih adalah tujuh ekor kambing, maka berarti disana ada tujuh ibadah qurban. Sedangkan dengan seekor unta atau seekor sapi yang disembelih atas nama tujuh orang lainnya, berarti tetap hanya ada satu saja ibadah qurban disini. Dan tujuh, tentu saja, lebih baik daripada satu!

Tentang urutan keutamaan tersebut, secara umum disimpulkan oleh para ulama dari sabda Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (yang artinya): ”Barangsiapa berangkat untuk shalat Jum’at di waktu pertama (awal waktu), maka (fadhilahnya) seolah-olah ia berqurban seekor unta. Barangsiapa berangkat di waktu kedua (waktu berikutnya), maka seakan-akan ia berqurban seekor sapi. Dan barangsiapa berangkat pada waktu ketiga (waktu sesudahnya lagi), maka seolah-olah ia berqurban seekor kambing…” (HR. Muttafaq ‘alaih).

Dan di dalam riwayat-riwayat hadits disebutkan bahwa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hampir selalu berqurban dengan kambing kibas yang besar, gemuk, sehat, gagah dan berbulu indah. Seperti misalnya di dalam hadits sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dimana beliau berkata: Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berqurban dengan dua ekor kambing kibas besar yang gemuk, bertanduk dan berbulu putih campur hitam (HR. Al-Bukhari).

  1. BATAS WAKTU PENYEMBELIHAN QURBAN

Salah satu hal yang menjadi ciri utama hampir seluruh ibadah ritual dengan berbagai jenisnya, seperti shalat, puasa, haji, dan lain-lain, adalah adanya syarat batasan waktu pelaksanaan. Dimana sebuah ibadah ritual hanya dibenarkan dan disahkan bila dilakukan dalam batasan waktu yang telah ditentukan dan disyaratkan. Begitu pula dengan pelaksanaan ritual ibadah penyembelihan hewan qurban ini. Ada batas awal waktunya, dan ada batas akhirnya. Dimana qurban tidak sah bila dilaksanakan diluar batas waktu tersebut. Tentu yang dimaksudkan adalah prosesi pelaksanaan penyembelihan hewan qurban, karena memang disitulah terletak ritual ibadahnya. Adapun tentang pendistribusian hasil sembelihan qurban, maka waktunya sangat longgar sekali, dan tidak terbatas seperti waktu penyembelihannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Dulu aku pernah melarang kalian menyimpan daging qurban lebih dari tiga malam. Tapi (sekarang) simpanlah sekehendak kalian” (HR. Muslim).

Adapun tentang batas awal waktu penyembelihan hewan qurban, maka sebagaimana telah disepakati oleh para ulama, adalah seusai penunaian shalat Idul Adha. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Barangsiapa menyembelih hewan qurban sebelum shalat Id, maka harus mengulang lagi” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda (yang artinya): “Yang pertama kali kita lakukan hari ini (hari raya Idul Adha) adalah shalat Id, lalu pulang untuk menyembelih qurban. Barangsiapa melakukannya, berarti ia telah mengikuti sunnah kita. Dan barangsiapa yang menyembelih sebelumnya (sebelum shalat), maka itu hanya menjadi daging biasa yang diperuntukkan bagi keluarganya, dan sama sekali tidak termasuk sembelihan ibadah (qurban)” (HR. Al-Bukhari dari sahabat Al-Baraa’).

Sedangkan tentang batas akhir penyembelihan yang masih sah sebagai ibadah qurban, maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Dimana jumhur imam madzhab, yakni Abu Hanifah, Malik dan Ahmad rahimahumullah, berpendapat bahwa, waktu penyembelihan hewan qurban berakhir pada akhir tanggal 12 Dzulhijjah, yakni hari kedua tasyriq. Sedangkan madzhab Imam Asy-Syafi’i, dan insyaallah ini yang lebih rajih, mengatakan bahwa, waktu penyembelihan adalah selama empat hari sampai akhir hari tasyriq yakni tanggal 13 Dzulhijjah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Seluruh hari tasyriq adalah waktu penyembelihan (hewan hadyu dan juga qurban). (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi dari sahabat Jubair bin Muth’im ra). Dan sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: Hari-hari penyembelihan qurban adalah: hari raya idul adha dan tiga hari sesudahnya (Zadul Ma’ad: 2/319).

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mentarjih madzhab Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, dan mengkritik madzhab jumhur, seraya berkata: Karena tiga hari ini (tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah) merupakan hari-hari yang dikhususkan sebagai hari-hari Mina, hari-hari pelemparan jumrah, hari-hari tasyriq dan hari-hari haram puasa. Jadi ketiganya “bersaudara” (sama) dalam hukum-hukum ini semuanya. Lalu, mengapa jadi berbeda (menurut madzhab jumhur) dalam hal kebolehan menyembelih dengan tanpa adanya dasar teks dalil ataupun ijmak? (Zaadul Ma’aad: 2/319).

  1. LARANGAN MENJUAL KULIT DAN MENJADIKANNYA UPAH JAGAL/BEAYA OPERASIONAL

Diantara ketentuan ritual ibadah penyembelihan hewan qurban adalah larangan bagi pequrban untuk menjual kulit atau bagian apapun dari hewan qurbannya yang disembelih, begitu pula larangan menjadikannya sebagai upah jagal atau beaya operasional. Dan tentu saja hukum larangan inipun tertuju kepada para panitia qurban atau pihak manapun yang menjadi wakil pequrban. Karena, kaedahnya, setiap wakil terikat dengan setiap hukum yang mengikat yang diwakilinya.

Dalam hadits Sayyidina Ali radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkanku untuk mengurus onta-onta sembelihan (sebagai hadyu atau qurban) milik beliau, dan agar aku membagi-bagikan dagingnya, kulitnya dan bahkan “baju”-nya kepada orang-orang miskin, serta agar aku tidak memberikan sesuatupun dari bagian hewan qurban itu kepada jagal (sebagai ongkos/upah) (HR. Muttafaq ‘alaih). Dan dalam hadits itu pula, beliau bersabda kepada Ali: “Sedekahkanlah “baju” penutupnya dan tali ikatannya , serta janganlah Engkau berikan upah jagal dari bagian hewan sembelihan tersebut”. Dan dalam sebuah hadits yang diperselisihkan derajat riwayatnya: “Barangsiapa menjual kulit hewan qurbannya, maka (seolah-olah) tiada qurban baginya” (HR. Al-Hakim, Al-Baihaqi dan lain-lain dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dihasankan oleh Al-Albani).

Memang masalah inipun khilafiyah diantara para ulama. Dimana minimal ada madzhab Imam Abu Hanifah yang membolehkan jika kulit hewan qurban dijual dan hasilnya disedekahkan kepada fakir miskin. Namun madzhab jumhur (Maliki, Syafi’i dan Hambali) lebih mentarjih keharaman hal itu dan menjadikannya sebagai faktor pengurang kesempurnaan ibadah qurban. Selanjutnya khusus masalah ini silakan baca: Bagaimana Memperlakukan Kulit Hewan Qurban?

  1. LARANGAN MENCUKUR RAMBUT/MEMOTONG KUKU

Termasuk dalam syarat kesempurnaan ibadah qurban adalah dengan mematuhi hukum larangan bagi pequrban untuk mencukur rambutnya atau memotong kukunya, sejak tanggal satu bulan Dzulhijjah dan sampai hewan qurbannya disembelih. Meskipun dalam hal inipun terdapat perbedaan pendapat antar madzhab. Dimana madzhab Hambali misalnya menyatakan bahwa, tindakan melanggar larangan itu berhukum haram, sementara madzhab Maliki dan Syafi’i menghukuminya makruh saja. Namun bagaimanapun tentu saja semua sepakat sebaiknya hal itu tetap dihindari, agar ibadah qurban bernilai ibadah lebih sempurna.

Baginda Sayyiduna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): Jika telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dan salah seorang diantara kalian hendak berqurban, maka janganlah ia mengambil (mencukur) rambutnya dan (memotong) kukunya sedikitpun sampai qurbannya disembelih)” (HR. Muslim dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha).

  1. PEMANFAATAN DAN PENDISTRIBUSIAN

Sedangkan terkait dengan aspek pemanfaatan dan pendistibusian hewan qurban setelah disembelih, maka sifatnya sangat longgar sekali. Dimana sang pequrban dan keluarganya boleh (bahkan sunnah) menikmati bagian daging qurbannya, boleh menyimpannya, boleh menghadiahkannya kepada orang yang paling kaya misalnya, bahkan boleh juga termasuk membagikannya kepada anggota masyarakat non muslim sekalipun. Meskipun tentu saja cara terbaik dalam pemanfaatan dan pendistribusian hewan qurban, adalah dengan membagikan dan mensedekahkannya kepada masyarakat fakir miskin dan kaum duafa yang lebih membutuhkan, atau cara-cara lain yang intinya dengan tingkat kemanfaatan dan pemberdayaan yang lebih tinggi, baik dari aspek sosial maupun dari sudut kemaslahatan dakwah Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (tentang pemanfaatan daging hewan qurban): “Makanlah (sebagian dari daging qurbanmu), bagikanlah (sebagian yang lain), dan simpanlah (sebagian yang lainnya lagi)” (HR. Al-Bukhari dari sahabat Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu). Dan dalam riwayat lain: “Makanlah (sebagian), sedekahkanlah (sebagian yang lain), dan simpanlah (sebagian yang lainnya lagi)” (HR. Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha).

Sahabat Buraidah radhiyallahu ‘anhu berkata: Biasanya dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berangkat shalat pada idul fitri sebelum beliau makan terlebih dahulu, dan tidak makan pada idul adha sampai beliau pulang (seusai shalat id), lalu baru beliau makan dari daging qurban beliau” (HR. Ahmad).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): Dulu aku pernah melarang kalian untuk menyimpan (daging qurban) lebih dari tiga hari (karena suatu kondisi tertentu). Akan tetapi (sejak sekarang) simpanlah sekehendak kalian” (HR. Muslim).

  1. PROSESI PENYEMBELIHAN

Berikut ini diringkaskan beberapa ketentuan, kesunnahan dan adab dalam prosesi penyembelihan hewan qurban, agar ibadah spesial ini bisa lebih sempurna:

  1. Seperti yang disebutkan dimuka bahwa, esensi dari ibadah qurban terletak pada prosesi penyembelihannya. Sehingga tidak ada qurban tanpa penyembelihan. Oleh karenanya, maka tentang masalah penyembelihan ini haruslah benar-benar diperhatikan.
  2. Syarat utama penyembelihan secara umum di dalam Islam, seperti yang telah diketahui bersama, adalah bahwa, sang penyembelih haruslah seorang muslim dan menyebut nama Allah saat melakukan penyembelihan.
  3. Dalam qurban, dibenarkan bagi siapapun diantara kaum muslimin untuk melakukan penyembelihan hewan qurban milik siapapun. Namun yang terbaik adalah jika yang melakukannya sang pequrban sendiri. Tentu dengan syarat bahwa, yang bersangkutan memang bisa, mampu dan berkenan. Sementara itu bila pequrban tidak menyembelih sendiri hewan qurbannya, maka disunnahkan agar ia setidaknya tetap turut menyaksikan prosesi penyembelihannya, jika masih dimungkinkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada putri beliau Fathimah radhiyallahu ‘anha (yang artinya): Hadirilah prosesi penyembelihan qurbanmu, semoga dosamu diampuni (berbareng) dengan tetes pertama dari darahnya” (HR. Al-Hakim).
  4. Disunnahkan agar penyembelihan dilakukan oleh seorang muslim yang ahli dalam penyembelihan hewan dan sekaligus bertenaga kuat serta dengan pisau yang setajam mungkin. Karena cara terbaik dalam penyembelihan adalah dengan membuat agar hewan cepat mati dan tidak tersiksa atau tersakiti dalam proses penyembelihannya. Dalam sebuah hadits (yang artinya): “Sesungguhnya Allah telah menetapkan keharusan ber-ihsan (melakukan yang terbaik) dalam segala hal. Maka apabila kalian membunuh (dalam perang atau eksekusi qishash), hendaklah kalian melakukannya secara ihsan (dengan cara terbaik), dan jika menyembelih (hewan), maka sembelihlah secara ihsan (dengan cara yang terbaik) pula. Hendaklah seseorang dari kalian (yang hendak menyembelih) menajamkan pisaunya dan membuat hewan sembelihannya secepatnya bisa rehat (mati)” (HR. Muslim).
  5. Saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghadapkan hewan qurban ke arah kiblat (untuk disembelih), beliau berucap: “Bismillah. Allahu Akbar. Allahumma hadza minka wa laka (Ya Allah, qurban ini adalah dari-Mu dan untuk-Mu)” (HR. Abu Dawud). Beliau juga mengatakan: “Allahumma taqabbal ‘an Muhammad, wa aali Muhammad, wa min ummati Muhammad” (Ya Allah, terimalah [qurban ini] atas nama Muhammad, atas nama keluarga Muhammad, dan juga atas nama ummat Muhammad).
  6. Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan sabda Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Ya ‘Aisyah, coba ambilkan pisaunya! Lalu beliau juga bersabda: Asahlah ia (pisau) dengan batu (agar tajam). Kemudian beliau mengambil pisau, membaringkan kambing qurban lalu menyembelihnya seraya berucap: Bismillah, Allahumma taqabbal min Muhammadin, wa aali Muhammadin, wa min Ummati Muhammad” (HR. Muslim).
  7. Atau cukup bila sang penyembelih minimal berucap: “Bismillah, wallahu Akbar” (HR. Muslim).
  8. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Hendaklah setiap orang ikut makan dari daging hewan qurbannya sendiri” (Dishahihkan dalam Shahihul Jami’ 5349).

Wallahu a’lam.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Dzulhijah dan Haji

Berbagi Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s