Keistimewaan Ramadhan Sebagai Momentum Perubahan

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa (di bulan Ramadhan) sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu (menjadi lebih ) bertaqwa” (QS.Al-Baqarah: 183).

Rasanya baru kemaren lusa kita berpisah dengan bulan Ramadhan 1432. Tiba-tiba kita segera akan kedatangan tamu agung itu lagi. Semoga Allah mengaruniakan taufiq-Nya kepada kita semua, sehingga kita bisa menggapai berbagai barokah di bulan mulia ini tahun ini, dan juga tahun-tahun mendatang.

Ramadhan adalah bulan istimewa bahkan paling istimewa dan paling utama, karena Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhususkannya dengan beragam keistimewaan dan bermacam-macam keutamaan serta kelebihan yang tidak terdapat di bulan-bulan yang lain. Dan karenanya, Ramadhan merupakan salah satu momentum paling istimewa dan paling utama, serta paling kondusif bagi kaum muslimin, secara individual maupun komunal, untuk melakukan upaya-upaya penempaan, perbaikan dan perubahan diri serta kehidupan dalam rangka mencapai  tingkat keimanan, ketaqwaan dan keshalehan yang lebih tinggi, dan untuk menggapai derajat kepribadian mukmin-mukmin sejati yang diidam-idamkan. Dan untuk itu, maka berbagai faktor pendukungpun disediakan dan diberikan  dalam bulan yang mulia dan penuh barokah tersebut, disamping  faktor-faktor penghalang juga dijauhkan dan dihilangkan.

Maka beruntung dan berbahagialah orang-orang yang mampu dan mau mengoptimalkan pemanfaatan momentum  istimewa ini, sehingga pasca Ramadhan iapun seperti terlahir kembali – dengan izin dan taufiq Allah – menjadi sosok pribadi mukmin baru yang serba istimewa pula. Dan sebaliknya, merugilah – di dunia dan di akherat –  orang-orang yang mengabaikan dan menyia-nyiakannya, sehingga Ramadhan demi Ramadhan lewat dan berlalu begitu saja, tanpa meninggalkan perubahan apapun dalam diri pribadi dan kehidupannya.

Tentu tidak mudah jika kita ingin berbicara tentang keistimewaan-keistimewaan dan keutamaan-keutamaan bulan suci ini secara menyeluruh, karena cakupannya memang sangat luas dan beragam sekali, yang membutuhkan satu buku tersendiri untuk bisa mengupasnya secara tuntas. Maka dalam makalah singkat ini, hanya akan disebutkan beberapa saja di antara keistimewaan-keistimewaan dan keutamaan-keutamaan itu, yang diharapkan bisa mewakili yang lainnya, dan yang dirasa paling dibutuhkan sebagai faktor-faktor pemotivasi bagi setiap muslim dan muslimah untuk mengoptimalkan pemanfaatan bulan Ramadhan sebagai momentum perubahan yang istimewa dan utama.

Bulan Bercermin Diri (Syahrul Muhasabah)

  • Ramadhan merupakan salah satu sarana dan momentum istimewa bagi setiap mukmin atau mukminah untuk bermuhasabah dan bercermin, yang dengannya ia bisa mengetahui tingkat keimanannya, kualitas ketaqwaannya kepada Allah Ta’ala, dan kadar kerinduannya pada kehidupan ukhrawi yang bahagia. Dan melalui cermin Ramadhan, seseorang bisa menguji diri dan hatinya, untuk mengetahui sudah berada di tingkat apakah ia? Apakah tingkat iman dan taqwanya masih tetap berada di tingkat dasar: dzaalimun linafsih (penganiaya diri sendiri), atau sudah naik ke tingkat menengah/lanjutan: muqtashid (pas-pasan, sedang-sedang saja, dan dalam batas minimal aman dan selamat), atau alhamdulillah sudah sampai di tingkat tinggi: saabiqun bil-khairaat (pelopor dan terdepan dalam berbagai kebaikan)? (lihat QS. Faathir [35]: 32).
  • Bercermin diri pra Ramadhan: Bagaimana sikap hati dan diri kita dalam menyongsong dan menyambutnya? Bagaimana ketika tahu bahwa, Ramadhan sudah semakin dekat dan telah di ambang pintu? Apakah hati merasa berat karena akan bertemu dengan bulan beban yang serba memberatkan, merepotkan dan mengekang kebebasan? Atau tidak merasa berat, tapi sikap hati biasa-biasa dan santai-santai saja? Atau hati serasa berbunga-bunga karena demikian rindunya ingin segera bersua dengan kekasih hati, sang tamu agung nan mulia, yang senantiasa ditunggu-tunggu kehadirannya?
  • Bercermin diri selama Ramadhan:
    • Bagaimana memanfaatkan momentum istimewa? Karena setiap waktu dalam bulan Ramadhan, setiap detiknya, setiap menitnya, setiap jamnya, setiap harinya, setiap malamnya, setiap siangnya, setiap petangnya, setiap paginya dan seluruhnya, adalah momentum istimewa yang penuh barokah, penuh rahmah, penuh maghfirah, penuh peluang pembebasan dari api neraka, pengabulan doa, penerimaan tobat, pelipat gandaan amal ibadah dan lain-lain, khususnya pada sepuluh malam dan hari terakhir, dan puncaknya pada malam lailatul qadar. Nah, kualitas keimanan dan kadar ketaqwaan seseorang sangat ditentukan oleh sikap dan upayanya untuk menggapai kemuliaan selama Ramadhan.
    • Bercermin untuk melihat hakekat jiwa apa adanya, tanpa campur tangan syetan penggoda dan pengganggu utama, yang (berdasarkan hadits muttafaq ‘alaih) dirantai dan dibelenggu selama Ramadhan saja. Artinya, ketika selama Ramadhan seseorang masih punya niat buruk, kecenderungan buruk, dan amal buruk, maka ia harus sadar bahwa, keburukan itu murni berasal dari potensi fujuur (lihat QS. Asy-Syams [91]: 7-10) dalam jiwanya, dan dari nafs ammaarah bis-suu’-nya (QS. Yusuf [12]: 53), dan bukan dari godaan syetan yang sedang dirantai dan dibelenggu!
  • Bercermin diri pasca Ramadhan: Bentuk kegembiraan apa yang dirasakan saat menyambut ‘Iedul Fithrie? Apakah karena merasa telah terlepas dan terbebas dari bulan penuh beban yang serba mengekang, sehingga ‘Iedul Fithrie seakan-akan justeru menjadi ajang kangen-kangenan dengan syetan – na’uudzu billah – yang juga baru saja terlepas dan terbebas dari belenggu dan rantai? Ataukah karena merasa telah bebas makan dan minum kembali semaunya dan sesukanya tanpa dijadwal dan dibatasi lagi seperti saat Ramadhan? Ataukah gembira dan puas disertai rasa penuh syukur karena merasa telah mendapatkan taufiq dari Allah, sehingga bisa mengoptimalkan pemanfaatan bulan mulia, bulan agung, bulan istimewa, bulan utama dan bulan suci, untuk menggapai kemuliaan, keagungan, keistimewaan, keutamaan, dan kesucian diri? Juga bercermin diri pasca Ramadhan, untuk melihat sejauh mana perubahan telah didapat setelah melewati masa penempaan diri, tazkiyatunnafs dan tarbiyatudzdzaat? Lalu sudahkan ijazah “la’allakum tattaquun” (lihat QS. Al-Baqarah [2]: 183) didapat dengan sukses?

Bulan Puasa (Syahrush-Shiyam)

  • Faktor pertama dan utama yang menjadikan Ramadhan sebagai bulan paling istimewa adalah, dipilihnya bulan tersebut bagi pelaksanaan fardhu puasa yang merupakan salah satu rukun asasi dalam Islam. Dan puasa, sebagaimana penegasan Allah, adalah salah satu sarana teristimewa untuk menggapai derajat ketaqwaan yang lebih tinggi (QS.Al-Baqarah: 183). Disamping itu fadhilah-fadhilah ibadah shaum ini sangatlaha banyak dan beragam, yang menjadikannya sebagai salah satu ibadah paling utama sebagai jalan taqarrub ilallah, penyucian jiwa, penempaan hati, perlindungan diri, penghapusan dosa, pembebasan dari api neraka, peningkatan derajat di Surga, dan seterusnya dan seterusnya. Namun puasa yang dimaksud, dengan bermacam-macam fadhilahnya tersebut, tentu bukanlah puasa parsial yang hanya terbatas pada puasa menahan diri dari lapar dan dahaga semata. Melainkan ia adalah puasa total dengan mempuasakan seluruh entitas diri seorang mukmin atau mukminah karena Allah Ta’ala.
  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan nista, maka sekali-kali Allah tidak butuh pada puasanya dengan hanya meninggalkan makan dan minum saja” (HR.Al-Bukhari).
  • Dan sabda beliau pula (yang artinya): “Jika salah seorang diantara kamu sedang berpuasa, maka janganlah ia berlaku tidak senonoh atau membuat keributan. Dan jika seseorang mencacinya atau mengajaknya berkelahi, maka hendaklah ia berkata:  sungguh aku sedang berpuasa!” (HR.Muttafaq ‘alaih).
  • Dan agar bisa total, optimal dan tidak parsial, maka puasa kita harus meliputi:
    • Mempuasakan hati dan pikiran
    • Mempuasakan emosi dan perasaan
    • Mempuasakan syahwat perut
    • Mempuasakan syahwat seks
    • Mempuasakan syahwat lidah dan mulut
    • Mempuasakan syahwat mata
    • Mempuasakan syahwat telinga
    • Mempuasakan syahwat tangan
    • Mempuasakan syahwat kaki
    • Dan mempuasakan syahwat-syahwat yang lainnya.
  • Puasa total seperti itulah yang akan mewujudkan perubahan besar dalam diri pribadi dan kehidupan orang perorang secara khusus dan juga masyarakat secara umum. Adapun puasa parsial yang hanya mengubah jadwal makan dan minum dari siang ke malam saja, maka tidak akan meninggalkan perubahan yang berarti.

Bulan Al-Qur’an (Syahrul Qur’an)

  • Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil).” (QS.Al-Baqarah [2]: 185).
  • Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): ”Sesungguhnya Allah meninggikan dengan Al-Qur’an ini derajat kaum-kaum tertentu (karena berinteraksi dengannya secara baik), dan merendahkan dengannya pula derajat kaum-kaum yang lain lagi (karena mengabaikan, menjauhi dan meninggalkannya)” (HR.Muslim).
  • Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk, cahaya dan rahmat bagi kaum muttaqin, merupakan salah satu kunci utama yang paling efektif untuk membuka pintu-pintu perubahan dan perbaikan dalam diri pribadi dan kehidupan ummat serta masyarakat beriman. Dan hal itu hanya bisa terwujud melalui adanya pola interaksi dan hubungan yang baik dan harmonis dengan Kitabullahini. Semakin dekat dan harmonis hubungan seseorang atau suatu masyarakat dengan Al-Qur’an, maka akan semakin terbukalah pintu-pintu perubahan dan perbaikan dalam kehidupan orang dan masyarakat tersebut. Dan Ramadhan adalah momentum yang paling tepat dan kondusif untuk membangun dan meningkatkan keharmonisan hubungan dan interaksi dengan wahyu terakhir dari Allah ini, yakni dengan berkomitmen untuk melakukan hal-hal berikut ini:
    • Memperbaharui (tajdid) kualitas iman kepadanya.
    • Membaca, menghafal, dan mendengarkannya.
    • Mentadabburi dan memahami makna serta kandungannya.
    • Mengikuti, mengamalkan, berakhlaq, berhujjah dan berhukum dengannya.
    • Mengajarkannya dan mendakwahkan nilai-nilai dan ajaran-ajarannya.

Bulan Limpahan Rahmat (Syahrur-Rahmah)

  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh barokah, Allah telah mewajibkan atas kamu berpuasa di bulan ini ……., dan di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa yang tidak mendapat bagian kebaikannya, maka sungguh berarti ia telah dijauhkan dari rahmat Allah” (HR.An-Nasa’i, Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Al-Albani).
  • Ramadhan adalah bulan limpahan rahmat, curahan barakah, dan peluang istimewa bagi pembebasan diri dari api Neraka.
  • Selama Ramadhan, doa-doa dikabulkan, munajat didengar oleh Allah Ta’ala, tobat dan istighfar hamba-hamba pendosa diterima oleh Dzat Maha Pengampun dan Penerima tobat. Maka selama Ramadhan, dosa-dosapun berguguran, kecuali bagi orang-orang yang memang tidak ingin dosa-dosanya diampunkan.
  • Pahala amal dan ibadah dilipat gandakan, sampai-sampai ada satu malam diantara malam-malam istimewa Ramadhan, yang disebut Lailatul Qadr, yang keutamaan, fadhilah dan nilainya mengungguli seribu bulan (QS.Al-Qadr: 1-5).
  • Ibadah-ibadah di bulan Ramadhan terasa demikian nikmat dan lezat, sehingga semangat dan motivasi beribadah pun meningkat sangat mencolok, khususnya pada sepuluh malam terakhir, dimana disunnahkan beri’tikaf di masjid dengan berbagai rangkaian ibadah khususnya, sebagai upaya puncak untuk menggapai taqwa. Dan karena keistimewaan ini, bulan Ramadhan bisa menjadi parameter ibadah setiap orang beriman, baik secara kuantitas maupun kualitas.

Bulan Bebas Gangguan Syetan (Syahrul-Khalash Minasy-Syaithan)

  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Apabila  bulan Ramadhan telah tiba, maka pintu-pintu Surga dibuka selebar-lebarnya, pintu-pintu Neraka ditutup serapat-rapatnya, dan syetan-syetan pengganggu dibelenggu/dirantai seerat-eratnya” (HR.Muttafaq ‘alaih).
  • Ramadhan – dengan keistimewaan spesial ini – adalah cermin terbaik dimana seseorang bisa melihat dan berhadap-hadapan face to face dengan jiwa dan dirinya sendiri tanpa campur tangan dan gangguan syetan yang selama ini selalu menjadi penghalang dan pengganggu utama, tentu dalam rangka muhasabah dan evaluasi diri menuju kepribadian Islami yang paripurna.
  • Keleluasaan yang sangat langka untuk penempaan dan pembinaan diri dan masyarakat secara optimal, total dan integral, menuju perubahan dan reformasi hakiki sesuai dengan standar islami.
  • Selama Ramadhan pintu-pintu ketaatan terbuka selebar-lebarnya dan peluang-peluang kebaikan tersedia sebanyak-banyaknya, sementara itu jalan-jalan kemaksiatan, keburukan dan kejahatan disempitkan sesempit-sempitnya. Dan ini merupakan salah satu faktor pendukung perubahan diri yang paling penting, dan yang harus dimanfaatkan seoptimal mungkin selama Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Dan seorang penyeru (dari malaikat) pun menyeru (ketika Ramadhan tiba): Wahai orang yang menginginkan kebaikan, kemari dan datanglah! Wahai orang yang menginginkan keburukan, surut dan mundurlah!” (HR.At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah).

Itulah beberapa keistimewaan dan keutamaan bulan suci Ramadhan, yang merupakan momentum sangat istimewa bagi setiap upaya perubahan dan perbaikan di dalam diri dan kehidupan. Tentu saja masih banyak keistimewaan dan keutamaan serta fadhilah lain yang belum disebutkan disini. Semoga yang disebutkan diatas sudah cukup mewakili  untuk bisa memotivasi semangat kita dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan setiap Ramadhan bagi terealisasikannya perubahan besar dalam diri dan kehidupan kita.

Namun perlu dicatat bahwa, betapapun istimewa dan utamanya, Ramadhan hanyalah salah satu momentum istimewa bagi setiap upaya perubahan menuju kondisi yang lebih baik dan lebih diridhai Allah, dan bukan satu-satunya. Masih banyak momentum yang lainnya. Bahkan setiap saat dalam kehidupan kita bisa menjadi momentum perubahan, selama ada niat, kemauan, tekad dan kesungguhan! Maka jangan ada yang salah persepsi,  sehingga menganggap jika seseorang ingin berubah menjadi lebih baik, maka ia harus menunggu sampai  Ramadhan tiba! Tidak, justru prinsip yang harus kita yakini dan pegangi dalam hal ini adalah  bahwa, siapapun yang ingin dan mau berubah, maka ia harus melakukannya saat ini juga, dan tidak menunda-nunda lagi, termasuk tidak perlu menunggu datangnya bulan Ramadhan! Karena tidak ada seorangpun yang tahu, apakah ia masih akan dapat kesempatan untuk bisa berjumpa dengan Ramadhan yang ditunggu-tunggu itu atau tidak.

Indikasi Perubahan Diri Pasca Ramadhan:

  • Berbahagia dan bergembira  karena merasa telah cukup optimal dalam mengisi dan memanfaatkan Ramadhan, dan bukan karena bulan Ramadhan dan puasanya telah usai dan “lebaran” (baca: bubaran)!
  • Berhasil membuat syetan kecewa dan kecele, karena telah memiliki “kekebalan” dan “immunitas” istimewa terhadap godaan, bisikan dan ajakan jahatnya pasca Ramadhan, setelah si syetan sendiri lepas dari ikatan rantai yang telah membelenggunya selama Ramadhan.
  • Tetap atau bahkan semakin semangat dalam beribadah dan beramal, serta lebih bisa merasakan nikmat dan manisnya setiap ibadah dan ketaatan yang ditunaikan.
  • Tetap atau bahkan lebih akrab dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an dengan berbagai bentuk interaksi.
  • Tetap atau bahkan lebih akrab, dekat dan terikat hati dengan masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa, salah satu diantara tujuh golongan orang yang akan memperoleh naungan Allah pada hari kiamat adalah: “…dan seseorang yang hatinya senantiasa terikat dan terpaut dengan masjid…” (HR.Muttafaq ‘alaih).
  • Lebih waspada dan berhati-hati dalam setiap langkah dan prilaku, dengan motivasi menjaga agar lembaran diri yang telah menjadi bersih dan putih kembali dengan datangnya ‘Iedul Fitri, tidak terkotori lagi oleh dosa-dosa dan kemaksiatan-kemaksiatan baru.
  • Secara umum tingkat keistiqamahan terjaga dengan baik dan bahkan meningkat secara signifikan.
  • Memiliki kepribadian yang stabil, karena lebih mampu mengontrol diri dan mengendalikan nafsu, yang merupakan salah satu tujuan dan hikmah utama ibadah puasa.
  • Meningkatnya orientasi ukhrawi dalam menjalani setiap aktivitas dalam hidup.
  • Lebih mampu menegakkan hidup disiplin berdasarkan standar islami, dengan mengatur dan menjalani segala aktivitas sesuai dengan agenda dan jadwal Allah.

Leave a comment

Filed under Puasa dan Ramadhan

Berbagi Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s