+Plus -Minus Potensi Diri

Allah sengaja membedakan pembagian potensi diri diantara hamba-hamba-Nya. Baik itu tentang potensi plus, yakni potensi kelebihan, keunggulan atau kekuatan. Maupun terkait potensi minus, yaitu potensi kekurangan atau titik kelemahan. Dan itu juga baik dalam hal bidang potensi, maupun dalam tingkatan masing-masing.
Yang demikian, agar antar para hamba Allah yang berbeda-beda bidang dan tingkat potensinya, terjadi kondisi saling melengkapi, saling memahami dan saling kerja sama. Dan memang hanya dengan sunnatullah itulah hidup ini bisa berlangsung dengan baik dan normal. Kita tidak bisa membayangkan, bagaimana hidup bisa berjalan, andai yang diberikan oleh Allah kepada semua hamba-Nya adalah potensi kekayaan saja misalnya, tanpa ada orang miskin? Atau sebaliknya, dibuat berpotensi miskin semua, tanpa ada yang kaya?

Nah, sebagaimana dalam hal potensi kaya dan miskin, Allah-pun membedakan pembagian potensi plus dan minus diantara manusia dalam hal tabiat, sifat, watak, karakter, kemampuan, kecenderungan, kesukaan dan lain-lain. Tujuan dan hikmahnya jelas, seperti yang telah disebutkan diatas, agar hidup bisa berlangsung dan berjalan dengan normal, baik dan ideal. Yakni dengan terwujudnya kondisi saling melengkapi satu sama lain. Dimana kelemahan si-A misalnya dalam satu bidang tertentu, akan ditutup oleh kekuatan si-B di bidang tersebut. Sementara itu sebaliknya, kekurangan si-B di bidang lain, akan dilengkapi oleh kelebihan si-A di bidang itu, dan begitu seterusnya.

Oleh karena itu justru tidak baik dan tidak tepat jika sebuah perhimpunan misalnya hanya terdiri dari orang-orang dengan bidang dan potensi kelebihan serta keunggulan yang sama. Tentu kecuali yang berdasarkan kebutuhan dan tuntutan spesialisasi bidang tertentu. Seperti dalam hal pernikahan, perjodohan dan kehidupan rumah tangga misalnya. Dimana tidak sedikit suami atau istri menghendaki dan menginginkan pasangannya dengan potensi kelebihan, keunggulan dan kekuatan yang sama persis dengan yang ada pada dirinya.

Umumnya mereka tidak sadar bahwa, jika kelebihan dan keunggulan sama, maka biasanya dalam bidang dan potensi kekurangan serta kelemahan juga akan sama. Dan tentu saja itu tidak baik, tidak tepat dan tidak ideal, karena berarti antar mereka tidak bisa saling menutup kelemahan dan saling melengkapi kekurangan.

Maka, selanjutnya, dengan demikian, setiap orang itu pasti memiliki potensi plus di satu sisi, dan sekaligus juga mempunyai potensi minus di sisi yang lain. Disamping itu memang sudah merupakan sunnatullah, juga penting dipahami bahwa, hal itu tidaklah masalah. Karena selama disikapi dengan tepat dan proporsional, kedua potensi kuat dan lemah tersebut sama-sama bisa menjadi sarana untuk meraih poin kemuliaan khususnya di sisi Allah Ta’ala. Maka, sebelum bertaaruf dengan orang lain, setiap individu dari kita wajib bertaaruf terlebih dulu dengan dirinya sendiri, dengan tujuan untuk mengenali dan menyadari plus dan minus potensi diri yang telah dibagi oleh Allah untuknya.

Dan urgensi mengenali potensi plus dalam diri, adalah agar bisa disyukuri dengan cara disadari, diakui, digali, dan dioptimalkan pemanfaatannya untuk memperoleh poin nilai dan pahala yang sebanyak-banyaknya, serta demi meraih prestasi diri yang seistimewa-istimewanya, melalui sarana potensi plus diri tersebut. Maka wajiblah bagi setiap orang yang memiliki potensi plus di satu bidang tertentu, untuk memahami dan menyadari adanya semacam “pesan” dari Allah bahwa, dengan diberikannya kelebihan dan keunggulan itu berarti memang di bidang itulah terletak prioritas amal, peran dan peluang perstasinya dalam hidup ini. Tinggal kewajibannya untuk merawat dan mengoptimalkannya! Sebaliknya hendaklah masing-masing kita selalu waspada, jangan sampai termasuk kategori orang-orang kufur nikmat, yang mengabaikan dan menyia-nyiakan potensi kelebihan dan keunggulan dirinya di bidang tertentu, karena sibuk hanya mengagumi potensi kelebihan, keunggulan dan kehebatan di bidang lain yang dibagikan oleh Allah kepada orang lain.

Sementara itu, mengenali dan menyadari akan potensi minus dan titik-titik kelemahan dalam diri, wabilkhusus titik kelemahan terlemahnya, tidak kalah penting dan urgennya. Karena dengannya setiap kita akan berupaya untuk lebih waspada, berhati-hati dan berantisipasi, dengan harapan dan tujuan agar bisa minimal tetap aman dan selamat dari segala kemungkinan bahaya keterjebakan, keterperosokan dan kefatalan akibat potensi minus diri dan titik kelemahannya itu. Bahkan bila seseorang tidak waspada, tidak hati-hati dan lemah antisipasi, tidak jarang ia berpotensi besar untuk terjatuh dan terserimpung dalam kondisi-kondisi fatal yang tidak logis, dimana kefatalan itu akan berdampak dan berakibat sangat buruk, karena bisa menutupi dan menghapus prestasi-prestasi hebat dan gemilang yang mungkin telah yang diukirnya di bidang-bidang kelebihan, keunggulan dan potensi plusnya!
Sedangkan kewajiban setiap individu diantara kita terhadap potensi minus dan titik-titik lemah dirinya itu, khususnya bagian terlemahnya, adalah: mengenalinya, menyadarinya, mengakuinya, bertekad sungguh-sungguh dan berupaya riil dalam rangka menutupnya, meminimalisir dampak-dampak negatifnya, dan selalu bermujahadah demi memperbaikinya seoptimal mungkin, serta yang tak kalah urgen adalah selalu berusaha menjauhkan dan menghindarkannya dari setiap kondisi, atau situasi, atau posisi yang bisa berpotensi bahaya bagi titik-titik kelemahan dan aspek-aspek minus dalam dirinya tersebut.

Sebagai contoh misalnya, jika seorang laki-laki sadar bahwa titik terlemah dirinya adalah haktor daya goda wanita misalnya, dan ini adalah titik terlemah setiap laki-laki sehat dan normal, maka ia harus selalu bersikap antisipatif dengan berupaya sebisa mungkin untuk menghindar dari kondisi-kondisi, situasi-situasi, atau posisi-posisi yang memungkinnya banyak berinteraksi dan bersinggungan langsung dengan kaum hawa, terutama yang bertampilan, berpenampilan berprilaku dengan daya goda yang na’udzu billah!

Dan contoh lain, bila seseorang merasa bahwa potensi terminusnya ada pada kelemahannya dalam aspek tanggung jawab harta misalnya, maka ia wajib senantiasa berusaha seoptimal mungkin untuk menghindarkan diri dari posisi-posisi dan amanah-amanah yang berhubungan langsung dengan tanggungan harta, uang dan dana. Seperti misalnya dengan menjadi bendahara organisasi atau yayasan misalnya, atau sebagai penanggung jawab kas masjid, atau lebih-lebih menjadi pemegang amanah harta warisan anak yatim, dan seterusnya.

Meskipun demikian, di sisi lain, potensi minus dan aspek kelemahan diri ini, seperti telah disinggung dimuka, juga tetap bisa menjadi sarana untuk mengumpulkan sebanyak mungkin poin nilai dan pahala, serta demi meraih setinggi mungkin derajat kemuliaan, khususnya yang jelas di mata Allah Ta’ala. Namun poin-poin nilai dan pahala serta derajat kemuliaan disini tidaklah diraih dari aspek hasil amal yang banyak dan istimewa. Tidak. Melainkan itu semua bisa didapat melalui jalur istimewanya nilai dan berlipatnya imbalan serta luar biasanya penghargaan bagi upaya mujahadah itu sendiri! Meskipun dari aspek hasil, tetap sangat jauh dari harapan dan target ideal.

Sehingga sekali lagi, baik potensi plus maupun potensi minus pada diri seseorang, keduanya sama-sama bisa menjadi sarana istimewa dan faktor luar biasa demi meraih kemuliaan dan menghimpun poin nilai dan pahala, utamanya dalam timbangan syariah Islam, namun dari jalur yang berbeda. Jika dari potensi plus (keunggulan) diri, derajat mulia dan nilai serta pahala istimewa bisa diraih melalui prestasi-prestasi sebagai buah dan hasil amal dan usaha yang sebanyak-banyaknya. Maka dari potensi minus (kelemahan) diri, itu semua didapat dari istimewanya nilai mujahadah itu sendiri dalam rangka menutup kekurangan, menguatkan kelemahan, dan meminimalisir potensi dampak buruknya, meskipun tidak mengapa dari sisi hasil tetap tidak memuaskan!

Semoga hidayah dan taufiq Allah senantiasa menyertai kita semua, sehingga bisa saling bekerja sama dalam upaya menjadikan semua potensi diri, baik yang plus maupun yang minus, demi meraih kemuliaan di dunia ini, wabilkhusus di akherat kelak di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Aamiin!

Leave a comment

Filed under Tazkiyah dan Akhlak

Berbagi Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s