Hukum Berjamaah Di Masjid

TANYA:

Untuk kesekian kalinya, kami ingin menanyakan sebagai berikut:

1. Apa bedanya antara shalat berjamaah bersama keluarga di rumah dan berjamaah di masjid atau mushalla?

2. Apakah diperbolehkan shalat di rumah, sedangkan rumah berdekatan dengan masjid atau mushalla?

Demikian, semoga pengasuh konsultasi ini selalu mendapat ridha dari Allah Ta’ala. Aamiin.

Parwoto, Sidoarjo

JAWAB:

Alhamdulillah wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa rasulillah, amma ba’du:
Berikut ini jawaban atas dua pertanyaan Anda:

1. Secara singkat, beda antara shalat berjamaah di masjid, dan shalat berjamaah di rumah bersama keluarga, adalah bahwa, shalat berjamaah di masjid itu jauh lebih baik, lebih afdhal, lebih utama dan lebih besar pahalanya dengan keutamaan dan bilangan pahala yang berlipat-lipat, dibandingkan jika seseorang shalat di rumahnya, baik berjamaah dengan keluarganya maupun apalagi sendirian. Tentu saja ini bagi laki-laki saja. Adapun bagi seorang perempuan, maka sebaliknya, dimana secara umum shalatnya di rumahnya justru lebih afdhal dan lebih baik daripada shalatnya di masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Janganlah kalian halang-halangi para wanita dari masjid-masjid Allah, dan hendaklah mereka keluar dalam keadaan tidak memakai wewangian. Namun rumah mereka tetaplah lebih baik bagi mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiyaallah ‘anhu). Ya, itu bagi perempuan. Sementara hadits-hadits yang berisikan perintah dan anjuran berjamaah di masjid semuanya tertuju kepada kaum laki-laki.
Adapun mengapa shalat berjamaah di masjid, bagi seorang laki-laki, jauh lebih afdhal dan lebih besar pahalanya, daripada jika ia shalat di rumahnya, maka bisa dilihat dari banyak faktor penyebab, antara lain sebagai berikut:

a. Menurut jumhur (mayoritas) ulama, hukum shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki adalah sunnah mua-akkadah (sunnah yang sangat dianjurkan dan ditekankan sekali), sehingga hukum meninggalkannya ya berarti makruh ‘mu-akkad‘ (sangat makruh sekali). Bahkan ada pendapat, yakni madzhab Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, yang mengatakan hukumnya wajib atau fardhu ‘ain bagi laki-laki. Hal itu didasarkan pada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (yang artinya): “Tidak ada shalat bagi tetangga masjid kecuali (berjamaah) di masjid” (HR. Ad-Daraquthni, Al-Baihaqi dan Al-Hakim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu). Dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Dan tetangga masjid adalah setiap orang yang bisa mendengar seruan muadzin” (HR. Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih).

b. Fadhilah-fadhilah, keutamaan-keutamaan dan pahala-pahala besar dan berlipat untuk shalat berjamaah yang disebutkan oleh banyak hadits dan riwayat, adalah tertuju untuk shalat berjamaah yang diadakan di masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Shalat berjamaah (di masjid) itu mengungguli shalat seseorang di rumahnya, atau shalatnya di pasarnya, dengan perbandingan 25 derajat. Dan hal itu karena seseorang dari kamu ketika berwudhu (di rumahnya) secara sempurna, lalu berangkat ke masjid hanya untuk niat shalat, ia tidak melangkah satu langkahpun, melainkan dengan satu langkah itu Allah akan meninggikan satu derajatnya dan menggugurkan satu dosanya, sampai ia masuk ke dalam masjid” (HR. Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu),

c. Kerasnya perintah untuk memenuhi dan menyambut seruan adzan bagi yang mendengarnya, termasuk bagi lelaki buta sekalipun. Di dalam hadits shahih bahwa, seorang lelaki buta pernah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan kondisinya yang tidak memiliki orang yang menuntunnya ke masjid. Maka beliaupun memberikan rukhshah (keringanan) kepadanya. Namun saat ia beranjak pergi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya lagi dan bertanya: “Apakah kamu bisa mendengar seruan adzan?”, dan diapun menjawab: ya. Lalu beliau bersabda: “Kalau begitu, penuhilah (seruan adzan itu)” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

d. Masjid itu diperintahkan dibangun adalah untuk dimakmurkan. Dan cara pemakmurannya yang paling utama dan paling istimewa adalah dengan mengadakan dan menggiatkan shalat berjamaah di dalamnya. Maka jika semua pada merasa cukup berjamaah dengan keluarga di rumah masing-masing, lalu untuk apa perlu dibangun masjid-masjid megah itu?

e. Pelaksanaan shalat berjamaah di masjid lima waktu dalam sehari semalam, merupakan salah satu syiar keislaman terpenting bagi setiap komunitas dan masyarakat muslim, yang menunjukkan identitas keislamannya. Maka tidak boleh diabaikan!
f. Dan masih banyak lagi faktor-faktor yang lainnya.

2. Apa yang kami sebutkan diatas rasanya sudah lebih dari cukup untuk sekaligus menjawab pertanyaan kedua ini, jadi tidak perlu kami ulang lagi.

Demikian jawaban yang bisa kami berikan, semoga bisa dipahami dengan baik dan bermanfaat.

Leave a comment

Filed under Konsultasi

Berbagi Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s