Fiqih Muwazanat

Arti:

Fiqih muwazanat berarti menimbang dan membandingkan diantara dua pilihan atau lebih berdasarkan pertimbangan maslahat dan madharat untuk menentukan pilihan yang tepat secara syar’i, baik karena kemaslahatannya yang lebih besar dan dominan maupun karena kemadharatannya yang lebih kecil dan lemah !

Urgensi:

  1. Muwazanat merupakan salah satu prinsip utama yang mendasari penetapan hukum-hukum syar’i.
  2. Muwazanat merupakan suatu keniscayaan dalam rangka untuk mengetahui dan menentukan hukum syar’i suatu masalah secara benar atau secara lebih tepat.
  3. Muwazanat adalah sebuah keniscayaan di tengah realita kehidupan yang jauh dari bimbingan hukum syara’, dan yang berkonsekuensi seringnya kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang serba dilematis, disebabkan dominannya fenomena percampuran antara al-haq dan al-bathil atau antara maslahat dan madharat !
  4. 4.      Muwazanat juga merupakan salah satu syarat atau bagian dari proses pelaksanaan fiqih aulawiyat.
  5. 5.      Muwazanat merupakan konsekuensi atau keniscayaan dalam melakukan dakwah bil hikmah.

Dasar-dasar:

  1. Ilmu syar’i yang benar dan syamil (komprehensif, menyeluruh)
  2. Fiqhul waqi’ (fiqih realitas)
  3. Persepsi yang benar dan menyeluruh tentang masalah dengan memperhatikan dan mempertimbangkan berbagai aspek dan keterkaitannya satu sama lain
  4. Fiqih aulawiyat khususnya terkait dengan peringkat-peringkat amal dan taklif syar’i

Kaidah-kaidah:

  1. Mencegah madharat mesti didahulukan atas mendatangkan maslahat. Kecuali jika maslahat yang hendak didatangkan diduga kuat besar atau besar sekali, sedangkan madharat yang mungkin terjadi kecil atau ringan (lihat kaidah 3).
  2. Jika harus memilih diantara hal-hal yang mengandung maslahat dan madharat, hendaknya mengambil yang madharatnya lebih kecil.
  3. Madharat yang ringan bisa saja ditolerir untuk mendatangkan maslahat yang lebih besar.
  4. Madharat yang bersifat temporal bisa saja ditolerir untuk mendatangkan maslahat yang lebih langgeng dan berorientasi jauh ke depan.
  5. Jika berbagai kemaslahatan saling bertentangan maka maslahat-maslahat yang lebih rendah dikesampingkan untuk memenangkan maslahat yang lebih tinggi.
  6. Kemaslahatan dengan ruang lingkup yang khusus hendaknya dikorbankan untuk mencapai kemaslahatan dengan ruang lingkup yang umum.
  7. Kemaslahatan yang bersifat temporal bisa dikesampingkan untuk memenangkan kemaslahatan yang bersifat langgeng dan berorientasi jauh ke depan.
  8. Kemaslahatan yang bersifat periferal (permukaan saja) bisa dikesampingkan untuk mewujudkan kemaslahatan yang lebih hakiki, substantif dan esensial.
  9. Kemaslahatan yang meyakinkan (sudah pasti) hendaknya dimenangkan atas kemaslahatan yang masih bersifat dugaan dan bahkan masih meragukan (tidak pasti).
  10. Setiap bentuk madharat sebisa mungkin harus dihindari dan dihilangkan. Akan tetapi, madharat tidak boleh dihilangkan dengan mendatangkan madharat yang serupa atau bahkan lebih besar.
  11. Madharat yang lebih rendah bisa saja ditolerir untuk menghindari madharat yang lebih tinggi.
  12. Madharat dengan ruang lingkup yang khusus bisa saja ditolerir untuk menghindari madharat dengan ruang lingkup yang umum.

Macam-macam:

  1. Muwazanat antara maslahat dan madharat, dan ini merupakan jenis muwazanat yang paling mudah. Yakni memperbandingkan antara pilihan atau opsi yang murni maslahatnya dan pilihan atau opsi lain yang murni pula madharatnya. Namun dalam realitanya justru ini yang paling jarang ditemui. Karena kebanyakan yang kita hadapi saat ini selalulah pilihan yang pada prinsipnya maslahat tapi tercampur dengan madharat tertentu, atau opsi yang pada dasarnya madharat namun tetap saja mengandung maslahat tertentu.
  2. Muwazanat antara maslahat dan maslahat, untuk menentukan dan memilih maslahat yang lebih besar dan lebih luas. Dan ini secara umum lebih sulit daripada yang pertama. Karena ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan yang semuanya maslahat, umumnya orang menyangka di antara pilihan-pilihan yang sama-sama maslahat tidak perlu dilakukan muwazanat. Padahal yang benar tidaklah demikian, selama di antara yang sama-sama maslahat itu masih bisa dibedakan tingkatannya antara yang maslahat dan yang lebih maslahat dan apalagi yang paling maslahat. Tentu untuk menentukan pilihan, muwazanat tetap harus dilakukan dengan sebaik-baiknya dan secermat-cermatnya, untuk memperoleh pilihan yang benar-benar paling baik, paling besar dan paling luas maslahatnya.
  3. Muwazanat antara madharat dan madharat, untuk memperbandingkan dan membedakan antara madharat kecil, madharat sedang, madharat besar dan bahkan madharat besar sekali. Dan muwazanat jenis inilah yang paling banyak kita hadapi dan harus kita lakukan saat ini. Padahal sebenarnya inilah bentuk muwazanat yang paling sulit, paling rumit dan paling dilematis. Karena dalam persepsi banyak kalangan, untuk pilihan-pilihan yang semuanya madharat tidak perlu dilakukan muwazanat. Disamping hasil muwazanat jenis inilah biasanya yang paling berpotensi untuk dipro-kontrakan dan dijadikan materi syubhat.

Muwazanat Pilihan-pilihan Realistis

Memang kaidah normatif yang mengikat setiap muslim dan muslimah dalam hidup ini bahwa, dalam menentukan atau menilai setiap pilihan semestinya ia selalu mengacu pada standar dan parameter ideal, untuk memperoleh pilihan yang ideal pula. Namun betapa sulitnya mendapatkan pilihan ideal itu di dalam realita kehidupan seperti sekarang ini, dimana mayoritas aspeknya telah jauh atau terjauhkan dari komitmen, kontrol dan arahan syar’i.

Maka hampir-hampir saja kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak ada satupun diantaranya yang ideal. Sementara itu kita tidak bisa atau tidak mungkin atau tidak dibenarkan untuk tidak memilih! Dan itu dalam hampir semua aspek kehidupan; dalam aspek sosial, pendidikan, seni budaya, ekonomi, pekerjaan, media, berbagai sarana, hukum, politik, dan lain-lain.

Nah dalam realita dan kondisi seperti itu, standar dan parameter yang harus dipakai dan diterapkan dalam menentukan suatu pilihan tertentu atau dalam  menilainya haruslah standar realistis, dan bukan standar idealistis. Karena memang pilihan manapun yang diambil oleh siapapun tentulah merupakan pilihan realistis pula, dan tidak mungkin ada pilihan yang idealistis.

Sebagai contoh misalnya dalam bidang dakwah Islam. Jika penerapan prinsip tadarruj (pentahapan) dalam perjuangan dakwah Islam diibaratkan naik tangga, dan puncak idealita islami murni itu ada di tangga 10 misalnya, sementara marhalah dakwah saat ini baru sampai tangga 3 misalnya, maka pilihan-pilihan dakwah di marhalah ini haruslah ditentukan dan dinilai berdasarkan standar dan parameter tangga 3 dan bukan tangga 5 atau tangga 7 atau apalagi tangga 10!

Dan kaidah penting dalam melakukan muwazanat diantara pilihan-pilihan realistis adalah sebagai berikut: Selama diantara pilihan-pilihan realistis itu masih bisa dibedakan, maka secara syar’i seorang muslim atau muslimah tetap wajib memilih diantara pilihan-pilihan yang ada itu, dan tidak dibenarkan bersikap netral atau abstain dengan tidak menentukan pilihan tertentu di antara pilihan-pilihan yang tersedia itu. Dan yang dimaksud dengan “masih bisa dibedakan” itu yakni selama masih bisa dibedakan dalam hal baik-buruknya dan maslahat-madharatnya, atau masih bisa dibedakan dalam hal tingkat kebaikan dan kemaslahatannya ataupun tingkat keburukan dan kemadharatannya!

Saat kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang semuanya buruk dan madharat, seperti kebanyakan pilihan yang ada di hadapan kita selama ini, maka kita wajib memilih yang tingkat keburukan dan kemadharatannya paling ringan dan paling rendah. Karena hanya dengan cara itulah kita bisa mencegah pilihan yang lebih atau paling buruk atau paling madharat. Jadi babnya adalah demi melakukan kewajiban inkarul munkaril akbar (pengingkaran atau pencegahan terhadap kemungkaran yang lebih atau paling besar), yang hanya mungkin dilakuakan dengan terpaksa memilih, berpihak dan mendukung al-munkar al-ashghar (kemungkaran yang lebih atau paling kecil), sesuai kaidah ahwanusy-syarrain atau akhaffudh-dhararain (memilih atau menolerir keburukan/kemadharatan yang lebih ringan dan lebih kecil diantara dua pilihan buruk/madharat) di dalam ushul fiqih.

Dan terakhir, yang juga sangat penting diingat bahwa, sikap netral atau abstain dalam menghadapi pilihan-pilihan realistis yang kesemuanya buruk dan madharat, namun masih bisa dibedakan tingkat keburukan dan kemadharatannya, pada hakekatnya sebenarnya merupakan sikap “memihak” dan “memenangkan” pilihan yang lebih atau paling buruk. Namun hal itu sering tidak disadari oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Wallahu a’lam, wa Huwal Muwaffiq ilaa aqwamith-thariiq, wal Haadii ilaa sawaa-issabiil.

Leave a comment

Filed under Fiqih Pemahaman

Berbagi Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s