Fiqhul Waqi’ (Fiqih Realitas)

DEFINISI : Fiqhul waqi’ berarti penguasaan, pengetahuan, dan pemahaman tentang kondisi kekinian dan realitas kontemporer, baik secara internal (umat Islam) maupun eksternal (umat-umat non Islam), yang meliputi aspek-aspek kekuatan dan kelemahan, kelebihan dan kekurangan, dan faktor-faktor yang melatarbelakanginya, hal mana akan berpengaruh terhadap fatwa para ulama, dakwah para dai, dan penyikapan-penyikapan kaum muslimin dalam kehidupan.

LANDASAN : Landasan fiqhul waqi’ adalah Al-Qur’an, As-Sunnah, dan As-Sirah. Contoh : perhatian besar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum terhadap peperangan yang terjadi antara dua kekuatan adidaya waktu itu : Romawi dan Persia, seperti yang dikisahkan di awal QS Ar-Ruum.

Urgensi (Pengaruh-pengaruh Positif) Fiqhul Waqi’

  1. Pengaruh positif terhadap kebenaran dan ketepatan fatwa
  2. Berdakwah dengan hikmah dan kejelasan persepsi
  3. Pengaruh positif terhadap pengambilan kesimpulan yang benar, penilaian yang tepat, dan penyikapan yang proporsional
  4. Pengaruh positif terhadap sistem tarbiyah (pembinaan) yang menyeluruh
  5. Pengaruh positif terhadap pandangan jauh ke depan dan perencanaan yang matang
  6. Pengaruh positif pada sikap waspada terhadap agenda-agenda tersembunyi musuh dan upaya menggagalkan konspirasi mereka
  7. Pengaruh positif terhadap pemeliharaan kehormatan dan kredibilitas ulama
  8. Pengaruh positif terhadap kesadaran akan tanggung jawab dan upaya menghadapi tantangan
  9. Pengaruh positif terhadap upaya meningkatkan kualitas umat Islam, secara intelektual maupun politis

Sumber-sumber Fiqhul Waqi’

  1. Al-Qur’an dan tafsirnya
  2. Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
  3. Sirah dan biografi salafush shalih
  4. Kitab-kitab aqidah dan fiqih
  5. Kajian sejarah dan fiqhus sunan (fiqih tentang sunnatullah dalam kehidupan)
  6. Sumber kajian politik
  7. Sumber media massa

Prinsip-prinsip dan Kaidah-kaidah Fiqhul Waqi’

  1. Kesadaran dan keyakinan tentang urgensinya
  2. Pijakan ilmu syar’i yang kokoh
  3. Keluasan ilmu pengetahuan dan keaktifan mengikuti perkembangannya
  4. Kemampuan menganalisa, mengaitkan, dan memperbandingkan antar peristiwa dan kejadian
  5. Interaksi yang positif dengan realitas
  6. Kemampuan memilih dan memilah sumber dengan tepat
  7. Tatsabbut dan tabayyun (klarifikasi) dalam menerima dan menyampaikan informasi
  8. Bersikap seimbang dan proporsional
  9. Kewaspadaan dalam berinteraksi dan bersikap agar terhindar dari bahaya, kesalahan, dan ketergelinciran
  10. Tidak berlebihan dalam berspekulasi dan menghindarkan diri dari sikap memastikan apa-apa yang akan terjadi di kemudian hari
  11. Jangan mengagumi apalagi mengagungkan orang-orang kafir dan orang-orang yang menyimpang.

Bagaimana Ber-ta’aamul (Berinteraksi) dengan Waqi’ ?

=    Terhadap waqi’ islami :

  1. Berusaha memahaminya secara obyektif dan proporsional.
  2. Menerima, mendukung, dan berupaya untuk memperluas wilayahnya, sesuai dengan kaidah-kaidah fiqih dakwah.

=    Terhadap waqi’ non islami (yang menyimpang) :

  1. Berusaha memahaminya secara obyektif dan proporsional.
  2. Memiliki sikap dasar menolak dan mengingkarinya.
  3. Berupaya untuk mengubahnya dengan cara seefektif mungkin yang tidak menimbulkan kemunkaran atau fitnah setara atau bahkan lebih besar lagi, sesuai dengan kaidah-kaidah fiqih taghyir al-munkar (mengubah kemunkaran).

Leave a comment

Filed under Fiqih Pemahaman

Berbagi Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s